Kamis, 05 Juni 2014
Pengemis senja
Di ujung senja, si pengemis hanya melewatinya. Bagaimana matahari yang gagahnya itu semakin bersembunyi sambil mengurangi jeritan teriknya. Semburat ungu begitu mewarnai cakrawala, karena pucat ketidak ceriaan langit, sedang bisu hingga pancar indahnya tak perlu ragu lagi. Langkah tak hanya berdiam diri hanya terlena dengannya. Ia indah, tapi ada yang lebih indah dari itu." Menggais ma'na pada mepet senja".
SI Pengemis berjalan jauh bukan halangan demi mengisi wadah yang kering di terpa keadaan.basuhan-basuhan kata berbentuk nada, memberi sedikit makanan pada wadah yang mengemis. Aliran itu mengalir di dalam wadahnya, meninggalkan pada sendi-sendinya bahwa balutan alirnya begitu tenang terasa .
Walau malam telah menelan siang, maka mata dan dengar masih mau memancar,karena luapan nadanya begitu menghias pada kekeringannya.
Sore tak pernah letih memberi cerita yang berbeda, meski tempat yang sama dan para mata-mata, pendengaran dan suara yang sama. Meski pertemuan selalu bersambung oleh perputaran waktu yang semakin larut, tapi berharap untuk tanya pada hari berikutnya biar tercanang dalam dada, agar si pengemis itu tersirami kembali wadah keringnya.
"Ala bizhikrillahi tatmainnul QUlub"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
-
Apa harus pergi???. Terlintas batu percikan biru tersumbat. BUkan untuk ku ludahi tapi kuhargai kedatangannya, dan mencoba mehilang dari...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar