Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2016

Tempat itu

aku tidak mengerti kenapa hati ini bergetar.
padahal kutahu. tak ada sesuatupun yang kutunggu dan kumalu menghampirinya.
mungkin karena sudah lama aku tak kemari. hingga rasanya, malu perih pun bersemi

seperti di taman asing.
aku bagai orang asing yang padahal aku sangat mengenal tempat itu
tapi sekarang.

untuk injakkan kaki saja
aku banyak beralibi
 hingga langkah seralu urung melangkah.

aku ingin biasa.
keluar pergi juga biasa
biar aku bisa mendengar, berbagi tanpa beralasan\

ya
sekadar bertukar sapa kiranya

Kamis, 08 Januari 2015

Maaf, kau

Maaf bila kasih ini masih terukir untuk sementara waktu. Walau pada beberapa waktu lalu telah berhasil kuraip dari pusara hatiku.
Terjelmalah ia lewat kehadiranmu.
tanpa menengok lekuk wajahmu
Tanpa kubersua dan berbicara dengan segenap sedikitnya waktu
Termulai lagi ilalang kering yang kembali tumbuh benih remajanya.

Maaf,
TApi kau jangan khawatir. Bila ini adalah pengganggu bagi kehidupanmu, hanya butuh waktu, mungkin ini kan menghilang kembali.

Kucoba ukirkan pada debu buka batu.

Maaf

Senin, 01 Desember 2014

1-12-2014




Sandiwara yang kumainkan hari ini
Pura-pura kemayangan terjadi
Berlagu tak peduli tapi fasih sekali ingatannya

Termenung, sambil gedup hati tercaci maki
Kulontarkan auman keras yang hanya terdengar oleh jiwaku

Terbentuk kata untuk terkata… inginnya bicara
Terkesima pada hal bodoh yang pernah suatu lalu terjelma

Tapi mala mini aku bertanya.
Apa yang harus kulakukan dengan ini?

Ngantuk



Tilas hujan masih menepi di jalanan
Mendung masih semangat di langit malam
Dibawah ini , mata kawan-kawan mengantuk
Terasa ingin meletakkan tubuh kelantai dan hilangkan kesadaran

Disebelahku sudah tertidur pulas.
Kitab-kitab terbuka tanpa disimak apalagi terbaca
Mata dan jiwanya tak lagi berkompromi
Menunduk takzhim dan tertidur pulas

Usai dengan ahiran salam dari bibir sang ustat
Para kawan lelaki benar-benar meneparkan tubuhnya ke lantai
AH ngantuk

Pagi




Sambutan pagi ini penuh kasih.
Ayahhan mencadai anak lelaki di terasnya.
Ayahanda memandikan putrinya di bak mandi.
Senyum dari mata sadis lunturkan sangka, bahwa kebaikan mengalir di dalam lekuknya.
Senyum Ibunda yang kutemui di jalan sedang menghadapkan baju menatap mentari.
Jalan tapakpun penuh dentak senyum.
Langit yang cukup mendung beruntung tak membuat hatiku semendung dirinya.
Sampai ku telusuri jalan monoton ini hingga di sekolahku.
Jalanpun menghidangkan banyak persaksian cerita.
               

Jumat, 28 November 2014

Laba-laba


Jaring laba-laba kecil.
Saling mengikat membentuk ruas-ruas rumahmu.

Sedang awan mendungkan jiwanya.
Sebentar lagi turun hujan.
Mensucikan bumi cinta.
Walau remuklah rumahnya.

Hay laba, kau bangun rumahmu.
Tanpa suami, kau rawat anakmu
Menggelantung di tiang pohon yang tandu
Basah air tangis hujan menghancurkan tapi tak kau sesalkan.

Engkau berlari membangun yang baru
Tak ku dengar tak lihat gores sedihmu
Kau lanjutkan hidupmu.

Rabu, 19 November 2014

Ruang Rahasia



Melamunnya diam membisi
Tak memperhatikan tak pula gubrisnya
Sapda manusiapun seolah ketiadaan Karena ia telah tenggelam pada dunianya

Kerahasiaan yang tak mudah disentuh
Kecuali pemiliknya

Apakah dia menari ataukah tertawa, atau menangis atau bertemu pujaannya
atau sekadar mengulang waktu atau melesat ke depan

Semua itu tak kumengeri
DIa simpan ruang rahasianya dalam keterdiamannya

Senyum itu


Aku menyukai senyumnya
seperti matahari yang baru saja terbit di pagi hari
setelah mendung yang seringkali mengukir di wajahnya

sementara orang lain sibuk tertawa dan bercanda
dia hanya berdiam diri walau matanya terlihat sedang memikirkan sesuatu

Bayang apa yang menggugurkan senyum mu?
Lamun apa yang menahanmu untuk tertawa?

Tapi senyum itu terpancar dari lekuk paras mu
pada satu suasana yang tak ku mengerti
dan itu sungguh indah sekali
ku harap kau mengulanginya kembali

Selasa, 11 November 2014

diam

Lelaki itu berlari memutari waktu
Tak berjerit hanya kosong bertatap

wajahnya kedataran walau menyipan kerahasiaan
Matanya seakan lupa berkedip

Jemarinya bergelantung di bibir

Fisikmu disini
Engkau dimana?

Tanaman

Aku merakit senyum pada sebaris duka.
Diantara kemarauan ada barisan do'a semoga kian turun hujan.
BIar tanah meninggalkan jejak air mata awan .
Pipi inipun tak sekering tanah saat ini.
Ia dibahasai rintiknya bekas air mata.

Mana yang kan kutanami dan kusirami?
Tanahku biar cabe saja yang tumbuh
TApi perlahan kusemai canda tawa semangat untuk membangun senyuman di lekuk pipiku

Minggu, 30 Maret 2014

CInta



Hingar-bingar bejelaga, rengekan polos pada remaja.
Pandangi cinta hanya sebelah mata hingga merelakan di tikam buasnya buaya.
 Tak sadarkah umur masih belia.
Bisa ditinggal lari bila mengandung di padarannya .
Tidak tanggung jawab, masih merengek orang tua, berani-beraninya mengelus-ngelus….. 
Bagaimana ini?
Apa hanya alasan saling mencinta hingga mengkorbankan tubuh sucinya. 
Amboy, para gadis, para pemuda….
 Cinta tetap cinta, lalukukan untuk menyalakan hidup bukan menggelapkan….   
Sabar,  Nanti ada waktunya….
Dan aku masih belia, apa yang harus kulakukan dengan cinta? “tanya kan diri”

Jumat, 14 Maret 2014

desas-desus



Hanya pradaban sunyi disini bagiku
Karena lika-likunya belum aku kenali.
Seperti apa busuknya, atau cantiknya.
Atau seperti apa keterlindungan yang di berikan. KArena merasa aman dari amukan kotor dunia yang belum ku kenal.

Dari telinga hanya terdengar bisik-bisik, hingga membidik duga.
Bahwa kesahajaannya mulai di tilap modernisme.

Masadepan yang kosong di pangku hingga membuang harumnya desa untuk selalu di segarkan.

Sepertinya biangnya si didik,  bukan bagaimana agar menjamur  kesadaran hinggga mau kembali menjawab persoalan kampungnya, tapi corak kertas dan titel, imin-iminnya.

Sabtu, 28 September 2013

Belok



Aku sering mampir kerumahmu. dengan membawa kepenatan.
Dan malah membuatku semakin penat.
Kala aku bekeliling, di ruang tamumu, di dapur kesedihanmu, di kebahagiaanmu.
Maka aku bosan, walau terkadang ku mendapat khayalku.

Namun sadari, “penat”.
Belokku seharusnya, ke ruang yang temboknya bercat hijau.
Walau rumah itu belum benar-benar genap jadi.
Biar luntur penat yang terjadi.
Seiring detak, pada nadi yang bersimpuh tunduk hadirnya suara menyeru sang ILAHI.

Bila ahir kataku kan tertutup Alhamdulillah hi robbil ‘alamin.
AKu kan berajak dengan meningalkan kepenatan.
Biar  tersapu angin gugurnya yang berjatuhan di lantai.

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...