Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar?
Apa kau menyesalinya?

Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya.
Indahnya pagi setelah kutempuh malam

Nyamannya sehat telah kurasai sakit
Indahnya mawar bersama durinya

Dan serunya bersahabat saat kita pernah saling memunggungi satu sama lain, lalu berpeluk mesra dalam tangan yang berjabat.

Kata orang. Perempuan kalau bertengkar bisa bertahun-tahun tak terlerai.

Di tempat itu

Dua kali aku bertengkar hebat dengan seseorang. Namun tak lebih dari tiga hari kita telah ahiri pertikaian itu.

"Dengan saling legowo diri, kata maaf kan saling terbagi"

Itu kisah pertama
Kufikir itu telah memecah stikma kata kata tersebut.

Kisah kedua

Tak perlu terucap kata maaf , dan kita saling diam dalam perenungan , dalam keheningan kita masing-masing.

Bercermin pada diri akan cela diri kita , noda atau ucap yang barangkali keliru.

Setelah itu kita menanyakan kabar dan keadaan masing-masing. Di situ  adalah ahir dari perseteruan. Dan apa yang terjadi di masa lalu biar menjadi rahasia diri.

Dari hal tersebut aku telah bersepakat dengan diriku.

Jangan bawa kata perempuan atau lelaki untuk pertengkaran tanpa usai. Semua bisa lekas atau lama tergantung bagaimana diri masing-masing mensikapinya.

Kisah itu takkan terlupa, biar menjelma menjadi makna untuk mendewasakan diri.

Senang bertengkar dengan mu
Mungkin pada suatu nantu kukan merindukanmu, kawan.

Kamis, 25 Mei 2017

tepian


niatmu baik, sampai kutetes air mata batin yang tak kau lihat di matamu
suatu waktu kecerianmu dalam bercerita bak air yang terus saja mengalir. seolah hanya kemarau yang hanya mampu hentikanmu dari kicauan.
tapi pada waktu yang lain, waktu memisahkan kita. meski mataku sering melihatmu. tapi cerita-cerita itu bagai kering kudengar.
"Kesibukanku dan kamu membuat kita terhenti"
Tapi, pada ahir-ahir waktu sebelum kepulanganku ke rumah, kita dipertemukan kembali dalam lantai yang sama. Dan kau menangis sejadi-jadinya walau hanya beberapa tetes mata kau menangis, tapi kurasa, dentruksi jelas mengacak-ngacak jiwamu. wajahmu terlihat menggigil. berkicaulah lagi, dan lagi.
isak tangismu begitu dalam, kawan
sampai deru darahku menggingil karena tanpa sadar aku merasakan perihnya pula.
"Pulang ke rumah, adalah labuhan untuk bertepi di dunia ini. tapi bagaimana ketika seorang anak kecil pulang tak lagi melihat kehangatan dalam tepian itu seperti sebelum ia memilih untuk pergi?.
lantas mau kemana ia?"
Tapi kulihat sorot matanya
lagi dan lagi
kuat, lebih kuat dari hantaman badai.
malam tak selamanya gelap gulita karena justru pertanda fajar kan segera tiba.
begitu pula kesedihan, memiliki tepi.....

(L)


Selasa, 07 April 2015

Tulisan “Jelek”




                Aku tahu betul tulisanku yang dalam sudut pandang yang sempit, “Jelek”. Dan lebih kukuh lagi, terdengar dari beberapa orang yang mengatakannya .  Entah secara blak-blakn  atau hanya secara sindirian.
                Kakakku, ibuku dan kawan-kawanku dimana tulisannya mereka yang lebih bagus telah mengakui. Dalam jiwaku kusandarkan makna
                “Nerimo ing pandum” sebagai tepukan bagi hatiku
                Lantas kubayangkan orang-orang hebat seperti baginda Muhammad yang hebat itu ternyata ummi . dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang ternyata tulisannya “Kurang bagus”.
                Lalu ketika aku kembali pada diriku sendiri.
                Tulisanku jelek = iya
                Hebat   =  ???
                Tiba-tiba saja anak-anak kecil itu menghampiriku. Menamati saat kumenulis tulisan ini di buku tulis. Kulihat tak berubah dahi mereka yang datar menjadi mengkerut.
                “Tulisan mu jelek” Kukira kata ini kan mereka lontarkan. Ternyata tidak.
                “Nulis opo mbak?” Tanya salah satu dari mereka.
                “Nulis-nulis. Mau nulis?”
                Dengan antusias salah satu anak itu mengambil pena yang kuulurkan padanya. Mereka mencoret kertas kosong samping tulisanku.
                Mereka menulis nama mereka sendiri dan temannya.
                Sampai usai sholat isa’, ustat kembali ke serambi masjid sekaligus tempat belajar  kelas ini.
                Anak-anak kecil itupun pergi dan pindah halauan permainan. Dimana sebelumnya main tulis- menulis lantas main sebaran kertas kumal dari tangga atas, setelahnya lari-larian.
                “Waw seru sekali. Bila hp, laptop tak mereka pegangi. Lalu memutuskan untuk berkumpul bersama. Maka kertas, pulpen, tanah pun jadi permainan yang mereka ciptakan. Permainan yang mereka ciptakan tujuan simple (menurut yang kulihat) yaitu “Menciptakan kegembiraan bersama”. Ujar hatiku
                Dan kulihat dalam perkumpulan anak-anak yang menggangguku itu (sebenarnya menemaniku dalam kesepian yang sementara) mereka dengan sendirinya berlatih membuat kesepakatan lalu mereka menjalaninya bersama. (hahaha)
                Ketika kembali kulihat coretan mereka di bukuku. Aku tersenyum .
                “Tulisanku ada temannya. Pantes mereka tak mengejekku”

Kamis, 19 Maret 2015

Dedaunan



Ada lagu “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia”
                Juga ada lagu, “Dunia sekolah kami semesta laborat kami, kehidupan pustaka kami siapapun itu guru kami”
                Ya, alam, pengalaman, kehidupan bisa memberi kita banyak pelajaran, tinggal apakah fikir, mata, telinga dan mulut digunakan untuk memahami itu semua. Ada hal-hal yang disampaikai dari buku secara struktur, namun jangan terjebak pada itu saja karena alam terlalu semesta luasnya mengandung berbagai makna.
                Ada yang berkata “ pelajaran terpenting adalah pengalaman.

                Pernah suatu waktu, dikala tanganku menggayuhkan sapu membersihkan taman sekolah bersama kawanku. Dedaunan yang gugur di lantai-lantainya membuat tampak kotor tempat ini. Disisi lain memang kelasku oriza sativa yang hari ini mendapat bagian untuk memberesi semua itu atau piket biasanya kami menyebut.
                Dari kejauhan atas, tiba-tiba tampak sesosok yang berdiri dengan tubuhnya, begitu serius tatapannya, mengeluarkan Tanya yang seolah hanya candaan belaka.
                “Kenapa kalian sapu, toh nanti juga kotor lagi” ucapnya begitu serius.
                Kujawab seadanya karena kukira hanya cadaan belaka.
                “Ben resek”
                Selang beberapa waktu setelah obrolan itu, ia langsung pergi.
                Namun gara-garanya aku jadi berfikir pertanyaan yang nggak penting itu, hehe mungkin.
                Aku terus mencari, namun rasanya begitu buntu. Apa maksudnya.
                Hingga pertanyaan yang hampir sama bermunculan di fikiranku.
                “Kenapa harus hidup kalo toh nanti kita mati?”
                “Apa bisa sampah ini bersih dengan sendirinya?”
`               “Hais asem, gor pertanyaan sepele gini saja susah kali mau menjawab”.
                Sampai hari ini berlalu makin berlalu. Tanya itu kadang teringat, kadang pula pergi. Kadang teringat, hingga membuat aku ingin berfikir, kadang pergi. Sampai aku dapat jatah piket lagi.
                Daun-daun kusapu, biar bersih paras mukanya. Walau ada beberapa kotoran ayam yang bercecer-cecer.
                Dari sana aku berfikir. Daun dan sampah-sampah ini, mungkinkah ia tersapu dengan sendirinya atau bersih dengan sendirinya bila tak ada tangan yang menjangkaunya?. Tidak, tidak bisa, harus ada tangan dan gerakan yang membuat sampah ini pergi. BIla dibiarkan terkatung-katung di lantai taman ini, akan membuat tumpukan sampah lain dan tumpukan lain.
                Jadi bergunakah tanganku membersikan sampah ini kalau toh besok masih ada sampah lagi?, tentu, setidaknya kawan besok yang piket mendapat sampah yang baru, dan tak mendapat tumpukan sampah hari ini. Atau misal besok aku membersihkan sampah lagi, akan jauh ringan dalam menyelesaikannya.
                Pun dengan ke kurang kerjaan ku kukaitkan dengan hal lain seperti hanya “Masalah”
Sampah ibarat suatu masalah. Ia akan bertumpuk, bila satu masalah saja tak coba di selesaikan, lalu datang masalah lain. Dan masalah tak akan selesai dengan sendirinya kalau bukan kita sendiri, gerakan kita sendiri yang menyelesakaikan.
                Entah jawaban sebenarnya dari orang itu apa, aku tidak tahu, hanya saja dari pertanyaan itu aku mendapat suatu pembelajaran, asek.
                Menengok alam, menengok kehidupan. Sadari ada pembejaran disana.
                “Berbagi waktu dengan alam”

               
               

Jumat, 13 Maret 2015

Selingkar

terjerembab dalam rasa ini. Aku menyatu dengan suasananya. kebersamaan duduk hampir melingkar, berkata-kata tak peduli sepuitis apa yang penting saling mengert, memaklumi dan menghargai.

Belenggu

Terkadang seseorang memasang sendiri rantai, tutup atau belenggu dalam dirinya sendiri. Tak berupa memang, tak berwarna juga tak berwajah. Tapi ampuh sekali mematahkan langkah, menakut-nakuti untuk terbang.
hingga  membuatnya terus menerus berada di zona nyaman yang menggelisahkan.

Jumat, 13 Februari 2015

Bosan

Masa kebosanan menjamahiku. Disekitarku hanya terpaku kawan-kawanku yang menghabiskan waktu dengan senda gurauan, sebagai pengisi waktu. Dan aku masih bosan.  Dan menatapi mereka pun juga bosan.

Tapi bagimana keadaan gurun pasir yang kesepian. Tak bisamelangkahkan kaki kemana-mana. Hanya menghabiskan waktu di satu tempat saja. Terik matahari menghanguskan tubuhnya, sedang dinginnya malam menghunus kejam, masih pada tempat yang sama dan tanpa kawan. Atau rumah yang telah ditinggal penghuninya. Kosong, kotor, tak terjaga, sepi sendiri di tengah-tengah desa yang telah ditinggalkan. Atau gunung . Bila sampai dia berani melakahkan kaki,maka apa yang terjadi?, hanya saja dia tetap bertahan, tak lari tak jua melangkah.

Kupandangi mereka sekali lagi, Kawanku yang tersenyum dengan penghabisan waktunya. Ternyata Aku tak sesunyi padang pasir itu, bukan juga stagnan sepeti gunung itu, dengan adanya  mereka di dekatku. Memang kata-kata tak penting dan anekdot belaka dalam bibir mereka, dan membosankan tapi setidaknya hadirnya mereka mampu mengusir kesendirianku.

Aku menjadi bagian dari mereka, tersenyum, membosankan tapi mengesankan. " Menjalani waktu pada sisi bosan".

Selasa, 03 Februari 2015

“Pribadi tukang cilot”




kemarin guwe disuruh simbok beli cilot....   sore-sore yang menyapa. AH pas banget penjual cilotnya mempir di jalan dekat rumah gue. Pertama ada mas-masnya pesen, dia layani. lalu bapaknya pesen dilayani. Lalu gue, gue pesen tiga dilayani juga. Satu buat simbok, yang dua lain buat gue dan kakak gue. Gue minta kagak usah di kasih caos, penting kasih kecap sama sambel dan kuah. Kalo punya simbok dan mbk gue ada caosnya, lengkap dech. Seru banget nich….
Sendainya gue minta pake sambel doang, atau minta nggak usah pake plastic ( missal gue bawa makok dari rumah )  gue rada yakin pasti di layani.
Naah,,,,   dari situ gue tangkep sebuah kepribadian yang manis banget. Bahwa jadi orang itu kayak penjual cilot. Mendengarkan setiap orang. Karena setiap orang itu berbeda, pun cara menghadapi dan bersikappun beda pada setiap orang yang kita temui.
Sore ini, gue makan sama simbok gue dengan cilot ini. Ajib bener. Bukan seberapa mahal cilotnya tapi seberapa bisa menikmatinya dan mensukurinya. Di tambah we jangan kasat mata dan kata dari penjual cilot.
“Pribadi tukang cilot”

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...