Tampilkan postingan dengan label Imajinasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imajinasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2014

Melawan bosan



Belajar, menghargai waktu yang bergulir. Menghargai situasi yang terberikan. Walau bila di terka warnanya kelabu, atau full color atau warna apapun tetap perlu ada penghargaan.

Memang, warna-warni mereka monoton di sepanang zaman silih bergantinya. Namun corak keterjadiaan situasi yang di situasikan memberi celah  ma’na dan arti yang berbeda.

Hingga bila diri benar-benar mencermati sebuah situasi. Maka kau kan lihat , bahwa sebuah situasi bisa mengubah seseorang, menjadi  jauh lebih baik  atau mungkin buruk.

Tergantung siapa yang menggunakan situasi tersebut seperti apa.
Pernahkah kau mendengar, ada emas yang bersembunyi di balik  sebuah situasi? Tentu saja belum, tapi disini seolah-seolah menjadi pernah mendengarnya.

Emas adalah hal yang terkait  dengan sesuatu yang sangat berharga.
Situasi akan menjadi selalu berharga bila berhasil  menemukan ketersembunyiannya.

Emas bersembunyi di balik diri kita sendiri. Bagaimana diri membuka hati untuk menimatinya dan mensadari bahwa setiap situasi yang di temui akan selalu dan selalu berbeda walau kecil. Dan meski orang yang mengartikan adalah deretan monoton sekalipun.

“Upacara ini selalu membentuk kotak tak beraturan dalam duduk orang-orangnya. Asal tak saling menumpuk dan setiap wajah terlihat bentuknya. Tak seperti upacara pada umumnya terjadi, yang harus berdiri di keringkan matahari. Dan aku tidak selalu menduduki tempat yang sama pada setiap pertemuan yang ada.  Hingga membawaku kepada kesadaran  bahwa ternyata aku memiliki kaki, naluri, fikiran dll, Untuk memilih tempat duduk yang ku inginkan sendiri. Bahkan kedatanganku tak selalu sama dengan datangku yang kamarin, bahkan mungkin besok. Proses di belakangnya tak kan jauh membuntuti untuk mencipta sebuah penikmatan, untuk lalu di bawa pada penghargaan”.

Rabu, 09 April 2014

Hewan

Tingkah hewan bukan suatu hal yang patut di persalahkan. Karena
mereka bertindak atas naluri mereka.

Maka tingkahnya biarkan menjelma menjadi cerminan bagi
setiap diri.

Namun. Kala kebencian akan meraka merasuk dalam jiwa, maka
salahkah mereka? Yang dengan nalurinya bertingkah, membuat kita benci.

Sepertinya salah kita sendiri.

Mengapa harus memberi ruang benci pada diri, perihal sesuatu
yang berlaku bukan atas kesadaran fikir. Hanya saja naluri mereka mengharuskan
bertingkah seperti itu.

“mereka tak dapat menentukan diri mereka seperti apa,
berbentuk apa. Dan bagaimana berlaku. Mereka menjalani sesuai aturan bagi
setiap diri mereka”

Maka tak perlu menyalahkan sepertinya, bercermin sajalah.


Celengnya celeng, memang itu nalurinya, kalo celengnya
orang, na ini yang patut di persalahkan…

Selasa, 18 Maret 2014

Semut tak takut matikah?




Gelas bening berukuran sedang, terisi teh berwarna coklat. Sudah lama teh dan gelasnya berdiam diri di meja, membuat para semut menghampiri keberadaannya.

Ada yang hanya melewati sisi gelas, ada yang menengok saja lalu pergi.
Yang tak habis ku fikir mengapa ada yang mencelupkan dirinya ke dalam teh hingga mati mengapung lalu tenggelam sampai akan menyentuh dasar yang di ramaikan dengan pasir gula-gula putih, dan semut-semut itu melayang dalam kematian.

Bagaimana perasaan para semut yang melewati dan melihat kawannya bergelantungan mati?
Apa ia juga akan melakukan hal yang sama “menceburkan diri” ?

Mungkin hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Karena mungkin mata-mata mereka sudah  sangat terbiasa melihat tragedi semacam itu.
Tidak seperti ku. Satu kematian saja mebuatku sesak, bahkan kematian itu sendiri membayangi diriku.
“Maka untuk apa  berani hidup bila tak berani mati”

Si semut yang lewat seolah memberi kabar
  Keterbiasaan melihat kematian menjadi hal yang biasa. Dan kesantaiannya berjalan melihat kawanannya melayang dalam kematian adalah pertanda ketidak takutan dalam menghadapi kematian

Rabu, 12 Maret 2014

HAy!!!.... pahami aku!



Hay......  pahami aku!!!!   teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan.

"HAy"..............

Aku berteriak dalam suara yang tak ada. hanya menggema aku dan untuk ku.
Ingin mencoba lewat bahasa lain yang bisa mereka dengar dengan melalui media kata. Tapi tenggorokan ku tak mau memberi jalan untuk lewat. DAn membiarkan kata itu terejawantahkan sendiri lewat anugrah Tuhan.

Legak-lenggok yang membentuk huruf-huruf, memberi sebuah ruang untuk aku berteriak-teriak disana.
Aku sudah jengah dengan teriakan yang tak mau mendengarku dalam diam, biar si huruf ini jadi kencanku, dalam menuangkan dunia, pelampiasan atas kegelisahan

Menjadiku, Si gadis yang menganggap saptic tank tidak sekedar hanya, karena ia menelanjangi dan melucuti matanya dari pandangan sewajarnya, menjadi dunia yang ia sendiri bisa mebuat alur ceritanya, dan menentukan siapa saja tokohnya, beserta karakternya.

Saptic tang yang ada adalah kehidupan, serta saksi atas nyawa-nyawa tokoh yang tak ada dihidupkan dalam benak gadis.

Saptic tank miliknya bagai teletabis yang perutnya membuncit menghadap langit, sedang puggungnya tidur terlentang dengan tanah sebagai kasurnya.

Saptic tank berubah menjadi istana megah, melebihi istana raja romawi, di kedalamannya banyak sekali buku-buku yang terpajang rapi di perpustakaan besar di dalam istana. hanya itu setidaknya yang aku butuhkan sekarang dalam istana itu.

Dan bukan “hanya", saptic tank, dan istana adalah duniaanya sendiri. Idea yang hidup segar berwarna, tak hanya berisikan canda tawa, tapi rasa, juga pemahaman. suasana pun terasa nyata.

KUpu-kupu



Si kupu terbang terbang berkelabat menaiki pangkas-pangkas atom kecil melewati hydrogen dan kawanannya yang tak terlihat. Sayap munyilnya berwarna hitam bercorak warna lain, ia kepakkan di angkasa selaksa tanpa beban. Ia terbang, berlenggak-lenggok dengan ringan menyusuri pohon-pohon rindang .

Mata ku tak mau naïf untuk hal satu ini. Karena aku merasa menjadinya saat tatapan ku terpana padanya. Latas sepertinya aku rasakan tubuh-tubuhnya yang bergerak mengarungi samudra kehidupan.
Sekejap aku melupakan kawan-kawan ku yang duduk bersanding dengan ku, bercerita akan kisah-kisah manusia. Entah mengapa, rasanya bebas sekali merasa menjadinya walau hanya sekelebat ia terbang di hadapan…..

Oh…..   menyenangkan sekali…..    terbang tanpa beban.
Tubuhku ringan, dibawa angin pun aku tetap bisa mensetirnya, kemanapun arah yang kumau. Mau pake gas pol, gas rendah gas sedang bisa, sesuai kebutuhan yang ada. Dan gas kali ini adalah belaian. Membelah halus raungan semilir angin di bawah terik matahari yang semakin hilang di telan mendung.
Belaiku akan hidup ini serasa ringan pada pundakku, karena aku bisa megangkat tumbuhku ke angkasa lalu menelusuri suri kehidupan. Mengamati manusia-manusia yang sedang menanggung beban di pundaknya yang tak kasat mata. Karena yang tampak adalah guratan tegas pada wajah yang mensembunyikan derita pada kedalaman jiwanya.

Oh, aku kembali, menjadi aku, dan ku terseyum melambai pada kawanku. Aku senang kalian berada di sini, menemani detik ini, sebuah detik  yang menjadi saksi atas cerita di hati ini, yang tak tersirat pada dunia, hanya kan tampak lewat rasa, dan video sukma .

Kamis, 06 Maret 2014

Nggak ada yang main-main

Nggak ada yang main-main dan nggak penting  di kehidupan ini. Apa satu noda kecil di baju adalah ketidak pentingan?  Apa debu yang bertebangan adalah ketidak pentingan? Apakah goresan perca pada tembok akibat percikan semen itu main-main dan nggak penting?  Apa ketika batu kecil yang terselip di antara bebatuan besar adalah main-main?

Tak ada yang tak penting disana. Karena semua tercipta bukan main-main. Bahkan permainan itu sendiri ketika dimainkan bukanlah suatu hal yang main-main.

Yang main-main adalah “main-main itu sendiri” membuat seolah hal-halnya tidak penting.
Nggak ada yang main-main meski menurut pandangan manusia itu suatu hal yang nggak penting.

Maka mataku ingin membawa ke tidak petingan itu, untuk mencari tahu, apakah ketidak pentingan itu benar tidak penting. Atau ketidak pentingan itu ternyata juga bukan main-main, karena keberadaannya untuk penggambaran tidak penting?.
Ia juga penting,. Andaikata tiada hal itu, bagaimana bahasa untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap tidak penting?

Lalu, apa ada yang tidak penting? Walau ketidak pentingan itu sendiri?

Tanyakan pada aku. Aku diri kalian masing-masing. Apa aku ini penting?. Aku( diri kalian juga aku) adalah peting meski untuk sesuatu yang tidak penting sekalipun.

Sabtu, 01 Maret 2014

Mungkin butuh kursus merangkai kata

MUngkin butuh kursus merangkai kata....    

"Ya....    berkata itu susah. Kagok, kek rasanya mulut ke tabrak tembok. Gagap terbata, hingga apa yang kan dikatakan raip dalam ingantan. Beruntunglah kalian yang bila ingin bicara, bisa tinggal bicara, bukan seperti manusia ini yang harus melahap kata dan kalimat lalu mengunyahnya kemudian menelannya, untuk bisa berbicara dengan lebih teratur. Bahkan sering hilang kata-kata bila tak mengunyahnya kembali si kata-kata untuk menuhi memori hingga benar dengan lugas berkata.    

Mereka bilang aku sibuk, dengan buku-buku. LEbih tepat nyamakan kata agar bisa berbicara dengan mereka.

Selain makan buku, aku kursus sama diriku. menengok kaca,untuk menghampiri kawanku di dalamnya dan berkata apa saja. Ia juga menjadi rujukan dalam diskusi untuk mengolah masalah yang semula mentah, bahkan dimakan sekalipun pahit di lidah, lalu dengan dirinya ia ajari memberi banyak resep bumbu-bumbu alami, lalu di goreng hingga menjadi masalah yang matang dan enak.  “hemmm yammi”

Terkadang aku malu sendiri metanatap wajahnya, apalagi bolamatanya. DAn aku takut kalau aku mencintainya.    "hussss  husss......  bangun. Ngelamun malahan. Kau fikir ia Taeyond atau Liu fei??  - _- ""

Seringkali aku bertanya pada dia yang berada di dalam kaca itu. ketika penat menyentuhku,ketika nyilu bingung merajai ku. Ketika amarah ingin terkatakan,  berkata padanya membuat isi yang berdegup buas di ke dalamannya sedikit demi sedikit pun luluh.

Sayu matanya  yang terberikan menampakkan ketulusan dalam berkata untuk ku. Ia coba bertanya padaku gerangan apa yang terjadi, lalu menguraikannya. Tak jarang ia tersenyum untuk ku dengan dengan urat tulus beriringan suara katanya yang tercurah. PErtanyaan apapun lebih sering ia menjawabnya, walau tak selalu terjawab dengan betul,setidaknya ia mau mendengar dan memberiku semangat dalam melangkah.

Tapi aku malu sekali kalau berbicara dengan nya, bila sampai kepergok orang lain.  “Rasanya ingin kubuang wajahku”

Selain itu, mencoret-coret tubuh kertas, juga sangat membantuku merangkai kata. walau sering kali ia malah jadi saksi atasdunia-dunia, yang belum tersentuh realita.

kursus kata   :hahahaha      sepertinya, berusaha untuk terus belajar  dan belajar agar katanya bisa terucap, walau seringkali kata tercuri waktu yang bergulir.

Senin, 24 Februari 2014

PEng alur cerita



"KAu datang dan pergi oh begitu saja."

NGgakkk    bukan seperti itu, kau.  tapi kau cukup diam pada ruang yang sama,  dan melakukan sesuatu yang memang kau lakukan, itu sudah membuatku mau melakukan sesuatu. 

KAu kata kau dimana.  kurasa tiada sepengetahuanku letak nya....  hanya berkibar burung emprit, sudah membuat mu berjalan pada waktu ku dan di dunia itu.

seperti sebuah cerita sendiri, membuat cerita sendiri, dan ada orang lain yang ditokohkan berada pada dunia itu, dunia absurd yang bisa ditentukan sendiri alurnya.   "Ya inilah cerita dalam detik dunia nyata"  menanam sendiri, maka panen sendiri juga layu sendiri (juga di dunia itu)

"Bermain dalam pendaman", mengungkap sesuatu hanya lewat duga hingga pada ahirnya pun juga kan berduga jawaban atas duga

Maka ada pemahaman dalam duga. Sebuah terkaan, pada si tokoh yang menyelinap masuk dalam dunia orang.Dan tak dapat di sangka tiba-tiba sang tokoh malah mengacak-ngacak dunia yang ada.melukai seenaknya, mensayat pada batang-batang yang rentan hingga keluar darah yang tampil segar.

Mengusirnya dengan melemparinya batu, namun usahaku hanya kesia-siaan, kerena ia cukup gesit dan berpegang tali yang ada pada dunia itu, hingga sekarang ia masih sering mampir pada dunia itu.

Bagaimana bisa coba?, aku mencoba memasukkan tokoh itu dalam dunia, tapi meraipkannya malah semakin ia merasa berada.

Baiklah tetaplah di situ, tapi tolong jangan mengacak-ngacak lagi.

“kau datang dan pergi oh begitu saja” sekali lagi bukan.   Toh ternyata si tokoh tetap saja mengelantung di tali dunia itu dan belum melepaskannya.
 Pergi, adalah adanya pada waktu dunia itu.

"SUgguh aku peng alur cerita yang bodoh walau pendamannya membuat degup benci. Benci tuk meniggalkan dunia itu"......        "penokohan, dan penentu alur sendiri"

AKu rapopo.... "masih bermain"

Sabtu, 22 Februari 2014

Loyang




 
Loyang berisi nasi yang mengepul panas, dan lauk pauk seadanya. Bakal di terjang oleh tangan-tangan mereka, oleh sebab, “bila tidak cepat dia bisa kehabisan atau siapa cepat dia dapat”

Kali ini ketersediaan lauk adalah si sambal yang menggiurkan, dan nasi, tetep selalu tampil panas mencatang lidah-lidah tak bertulang itu.

Loyang yang sudah terisi makanan beserta lauknya kini di hadapkan pada beberapa orang, dalam hitungan tidak sampai sepuluh loyang itu di tidurkan di tanah, juga dengan kesiapan mental dan perut, mereka memulai menyantapnya dengan semboyannya “siapa cepat dia dapat” yang tak tersirat.

Panas-panas, nasi mencatang lidah, tertambah cabay menggibas isi mulut bahkan hingga kerongkongan. Mencoba ingin memberhentikan diripun mustahil adanya….      “keburu habis di tilap kawan nanti”

Maknyos panas nya, maknyos pedasnya….     Huahhhhh  pedesnya……. Huah panasnya.

Lalu loyang itu di tinggal begitu saja di lantainya, sedang manusia-manusia yang berebut makan berlarian mecari air setelah memastikan loyang itu bersih.

Aku datangi loyang dan sedikit berkomentar

“Hay loyang. Kau adalah saksi para kawula muda-mudi yang kelaparan. Lihat betapa girangnya mereka setelah isi perut mereka yang kosong jadi kembung dan kenyang. Meskipun mereka berdalih siapa cepat dia dapat, mereka tetap mempunyai rasa untuk berbagi dengan kawannya. Aku senang dengan kebersamaan mereka, juga kesederhanaannya dalam kehidupan”

“Hahaha….    Iya. Tapi sepertinya kau daritadi hanya memerhatikan mereka, mengapa kau tak memerhatikan kesediaanku dalam merelakan tubuhku demi ke solidaritasan mereka. Toh setiap hari aku selalu merasakan panasnya nanakan nasi yang telah masak, juga pedasnya sambal yang membara. Bahkan aku harus menahan geli ketika tangan-tangan mereka saling berebut mengambil makanan di tubuhku”

“Iya kau benar loyang.  namun apa kau memperhatikan aku saat aku memperhatikan mereka?. Sungguh tidak adil bukan kau minta ku perhatikan, sedangkan engkau sendiri tidak memerhatikan aku yang dari tadi tegap berdiri memanjakan mata dengan melihat mereka”

“Apa memerhatikan harus di balas juga dengan diperhatikan”

“Lalu mengapa kau ingin aku perhatikan, loyang?”

“Bukan itu. Namun, aku hanya ingin kau mensadari sesuatu. Meski hanya mensadari tentang aku”

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...