Tingkah hewan bukan suatu hal yang patut di persalahkan. Karena
mereka bertindak atas naluri mereka.
Maka tingkahnya biarkan menjelma menjadi cerminan bagi
setiap diri.
Namun. Kala kebencian akan meraka merasuk dalam jiwa, maka
salahkah mereka? Yang dengan nalurinya bertingkah, membuat kita benci.
Sepertinya salah kita sendiri.
Mengapa harus memberi ruang benci pada diri, perihal sesuatu
yang berlaku bukan atas kesadaran fikir. Hanya saja naluri mereka mengharuskan
bertingkah seperti itu.
“mereka tak dapat menentukan diri mereka seperti apa,
berbentuk apa. Dan bagaimana berlaku. Mereka menjalani sesuai aturan bagi
setiap diri mereka”
Maka tak perlu menyalahkan sepertinya, bercermin sajalah.
Celengnya celeng, memang itu nalurinya, kalo celengnya
orang, na ini yang patut di persalahkan…
Rabu, 09 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Lebaran, kau datang cepat sekali. Ramdhan sepertinya tinggal penghabisannya. Aku terlalu mencintai bulan ini. Banyak sekali tilas-tilas sen...
-
Kuncinya bukan pada situasi. Tapi bagaimana meni’mati situasi itu sendiri. Karena dengan meni’mati apapun akan menjadi menyenangkan, en...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar