Tampilkan postingan dengan label TUang tinta (coretan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUang tinta (coretan). Tampilkan semua postingan
Minggu, 12 April 2015
Ibu
Entah mengapa aku tak bercita-cita menjadi seorang ibu. Karena aku merasa, aku tak sebaik ibuku dalam menjaga, merawat dan bersabar pada anaknya.
Jumat, 10 April 2015
cinta
apa kata cinta begitu hebatnya, hingga bisa membuat seseorang menjadi tiba-tiba memiliki gairah hidupnya atau malah terpuruk karena tenggelam dalam kerinduan. atau karenanya juga, sebuah cerita menjadi seperti ada ruhnya. Berdegup penuh antusias ingin tahu siapa nama dihatinya..... atau cinta adalah bagian hoaxxx dalam kehidupan seseorang.... sehingga membahas nya saja rasanya ingin menutup telinga....
Apalah itu.....
Apalah itu.....
Senin, 06 April 2015
Kentut
kentut....
ada kerutan dahi saat mendengarnya, ada tawa pula saat mendengar, ada urat malu saat tak tepat mengeluarkan. Tergantung
Hanya saja... dia bagai kehidupan.
kehidupan yang akan hancur, dan akan pergi , .... waktunya memang lebih lama dalam proses keterpergiannya .ya, Yang membedakan hanya soal waktu.
HIdup kayak kentut saja orang-orang masih acap kali demi nafsunya mengejar-ngejar didalamnya. Dan sialnya. seringkali aku masuk didalamnya.
ada kerutan dahi saat mendengarnya, ada tawa pula saat mendengar, ada urat malu saat tak tepat mengeluarkan. Tergantung
Hanya saja... dia bagai kehidupan.
kehidupan yang akan hancur, dan akan pergi , .... waktunya memang lebih lama dalam proses keterpergiannya .ya, Yang membedakan hanya soal waktu.
HIdup kayak kentut saja orang-orang masih acap kali demi nafsunya mengejar-ngejar didalamnya. Dan sialnya. seringkali aku masuk didalamnya.
Kamis, 19 Maret 2015
Dedaunan
Ada lagu “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa
dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia”
Juga
ada lagu, “Dunia sekolah kami semesta laborat kami, kehidupan pustaka kami
siapapun itu guru kami”
Ya,
alam, pengalaman, kehidupan bisa memberi kita banyak pelajaran, tinggal apakah
fikir, mata, telinga dan mulut digunakan untuk memahami itu semua. Ada hal-hal
yang disampaikai dari buku secara struktur, namun jangan terjebak pada itu saja
karena alam terlalu semesta luasnya mengandung berbagai makna.
Ada yang
berkata “ pelajaran terpenting adalah pengalaman.
Pernah
suatu waktu, dikala tanganku menggayuhkan sapu membersihkan taman sekolah
bersama kawanku. Dedaunan yang gugur di lantai-lantainya membuat tampak kotor
tempat ini. Disisi lain memang kelasku oriza sativa yang hari ini mendapat
bagian untuk memberesi semua itu atau piket biasanya kami menyebut.
Dari
kejauhan atas, tiba-tiba tampak sesosok yang berdiri dengan tubuhnya, begitu
serius tatapannya, mengeluarkan Tanya yang seolah hanya candaan belaka.
“Kenapa
kalian sapu, toh nanti juga kotor lagi” ucapnya begitu serius.
Kujawab
seadanya karena kukira hanya cadaan belaka.
“Ben
resek”
Selang
beberapa waktu setelah obrolan itu, ia langsung pergi.
Namun
gara-garanya aku jadi berfikir pertanyaan yang nggak penting itu, hehe mungkin.
Aku
terus mencari, namun rasanya begitu buntu. Apa maksudnya.
Hingga
pertanyaan yang hampir sama bermunculan di fikiranku.
“Kenapa
harus hidup kalo toh nanti kita mati?”
“Apa
bisa sampah ini bersih dengan sendirinya?”
` “Hais
asem, gor pertanyaan sepele gini saja susah kali mau menjawab”.
Sampai hari ini berlalu makin
berlalu. Tanya itu kadang teringat, kadang pula pergi. Kadang teringat, hingga
membuat aku ingin berfikir, kadang pergi. Sampai aku dapat jatah piket lagi.
Daun-daun
kusapu, biar bersih paras mukanya. Walau ada beberapa kotoran ayam yang
bercecer-cecer.
Dari
sana aku berfikir. Daun dan sampah-sampah ini, mungkinkah ia tersapu dengan
sendirinya atau bersih dengan sendirinya bila tak ada tangan yang
menjangkaunya?. Tidak, tidak bisa, harus ada tangan dan gerakan yang membuat
sampah ini pergi. BIla dibiarkan terkatung-katung di lantai taman ini, akan
membuat tumpukan sampah lain dan tumpukan lain.
Jadi
bergunakah tanganku membersikan sampah ini kalau toh besok masih ada sampah
lagi?, tentu, setidaknya kawan besok yang piket mendapat sampah yang baru, dan
tak mendapat tumpukan sampah hari ini. Atau misal besok aku membersihkan sampah
lagi, akan jauh ringan dalam menyelesaikannya.
Pun dengan
ke kurang kerjaan ku kukaitkan dengan hal lain seperti hanya “Masalah”
Sampah ibarat suatu masalah. Ia
akan bertumpuk, bila satu masalah saja tak coba di selesaikan, lalu datang
masalah lain. Dan masalah tak akan selesai dengan sendirinya kalau bukan kita
sendiri, gerakan kita sendiri yang menyelesakaikan.
Entah
jawaban sebenarnya dari orang itu apa, aku tidak tahu, hanya saja dari
pertanyaan itu aku mendapat suatu pembelajaran, asek.
Menengok
alam, menengok kehidupan. Sadari ada pembejaran disana.
“Berbagi
waktu dengan alam”
Jumat, 27 Februari 2015
Taii
Jangan mencaci maki si tai.
Berandai, sekiranya tai itu ternyata diriku. Aku bahu dan dibuang, diabaykan. Ketika diinjak kaki manusia aku ditreriaki
"Asem, midak tai"kata manusia itu
"Woy salah siapa?" Teriak ku pada si pemilik kaki itu dengan diam. sedang dia tak pernah mendengarku.
Tapi manusia dengan kakinya itu tak peduli dan berjalan dengan tak merasa bersalah sedikitpun. Bahkan dari wajahnya terukir nada kata pada kerutan dahi nya "Aku tidak bersalah"
"Sudah memaki, tak mengerti kesalahannya sendiri" ucapku pasrah walau tubuhku telah terputus-putus dan sebagian tubuhku telah hilang terbawa kakinya.
Aku tidak pernah meminta diriku tercipta menjadi seperti ini.... "Kau injak aku tapi kau salahkan aku yang duduk di keramik ini. Kau marahi aku padahal engkaulah yang menginjakku" Kata ku Tai (mungkin)
Berandai, sekiranya tai itu ternyata diriku. Aku bahu dan dibuang, diabaykan. Ketika diinjak kaki manusia aku ditreriaki
"Asem, midak tai"kata manusia itu
"Woy salah siapa?" Teriak ku pada si pemilik kaki itu dengan diam. sedang dia tak pernah mendengarku.
Tapi manusia dengan kakinya itu tak peduli dan berjalan dengan tak merasa bersalah sedikitpun. Bahkan dari wajahnya terukir nada kata pada kerutan dahi nya "Aku tidak bersalah"
"Sudah memaki, tak mengerti kesalahannya sendiri" ucapku pasrah walau tubuhku telah terputus-putus dan sebagian tubuhku telah hilang terbawa kakinya.
Aku tidak pernah meminta diriku tercipta menjadi seperti ini.... "Kau injak aku tapi kau salahkan aku yang duduk di keramik ini. Kau marahi aku padahal engkaulah yang menginjakku" Kata ku Tai (mungkin)
Jumat, 13 Februari 2015
Bosan
Masa kebosanan menjamahiku. Disekitarku hanya terpaku kawan-kawanku
yang menghabiskan waktu dengan senda gurauan, sebagai pengisi waktu. Dan
aku masih bosan. Dan menatapi mereka pun juga bosan.
Tapi bagimana keadaan gurun pasir yang kesepian. Tak bisamelangkahkan kaki kemana-mana. Hanya menghabiskan waktu di satu tempat saja. Terik matahari menghanguskan tubuhnya, sedang dinginnya malam menghunus kejam, masih pada tempat yang sama dan tanpa kawan. Atau rumah yang telah ditinggal penghuninya. Kosong, kotor, tak terjaga, sepi sendiri di tengah-tengah desa yang telah ditinggalkan. Atau gunung . Bila sampai dia berani melakahkan kaki,maka apa yang terjadi?, hanya saja dia tetap bertahan, tak lari tak jua melangkah.
Kupandangi mereka sekali lagi, Kawanku yang tersenyum dengan penghabisan waktunya. Ternyata Aku tak sesunyi padang pasir itu, bukan juga stagnan sepeti gunung itu, dengan adanya mereka di dekatku. Memang kata-kata tak penting dan anekdot belaka dalam bibir mereka, dan membosankan tapi setidaknya hadirnya mereka mampu mengusir kesendirianku.
Aku menjadi bagian dari mereka, tersenyum, membosankan tapi mengesankan. " Menjalani waktu pada sisi bosan".
Tapi bagimana keadaan gurun pasir yang kesepian. Tak bisamelangkahkan kaki kemana-mana. Hanya menghabiskan waktu di satu tempat saja. Terik matahari menghanguskan tubuhnya, sedang dinginnya malam menghunus kejam, masih pada tempat yang sama dan tanpa kawan. Atau rumah yang telah ditinggal penghuninya. Kosong, kotor, tak terjaga, sepi sendiri di tengah-tengah desa yang telah ditinggalkan. Atau gunung . Bila sampai dia berani melakahkan kaki,maka apa yang terjadi?, hanya saja dia tetap bertahan, tak lari tak jua melangkah.
Kupandangi mereka sekali lagi, Kawanku yang tersenyum dengan penghabisan waktunya. Ternyata Aku tak sesunyi padang pasir itu, bukan juga stagnan sepeti gunung itu, dengan adanya mereka di dekatku. Memang kata-kata tak penting dan anekdot belaka dalam bibir mereka, dan membosankan tapi setidaknya hadirnya mereka mampu mengusir kesendirianku.
Aku menjadi bagian dari mereka, tersenyum, membosankan tapi mengesankan. " Menjalani waktu pada sisi bosan".
Selasa, 02 Desember 2014
sadar
Bagaimana
bila aku berada di tengah hutan dan sendirian. kedinginan, sepi, dan
bingung. Tapi aku sekarang duduk ruang ini bersama-sama kawanku yang
diam dengan kesibukan mereka sendiri. ku fikir ini indah dan
menyenangkan sekali daripada sendirian di tengah hutan.
Beberapa waktu aku kehilangan dan lupa keindahan-keindahan seperti ini. Aku selimutinya dengan dedaunan duri di tubuhku yang menutupi segala kompleksitas jagat ini.
"Menikmati"
Beberapa waktu aku kehilangan dan lupa keindahan-keindahan seperti ini. Aku selimutinya dengan dedaunan duri di tubuhku yang menutupi segala kompleksitas jagat ini.
"Menikmati"
seseorang
memangkas nyilu yang bersarang. terkatup-katup ku bawa dalam kehidupan. memang tersentak seperti nahkoda kapal pesiar yang terkejut ketika kapalnya menabrak karang.
terlelalap dalam lamunan. Setelah ku sadari sejak awal memang telah jauh pergi.
Terberikan aroma ini untuknya, dan kurasa benci tak kuumbar kerena sebuah ketiadaan mu di ruang waktu di sini.
"sukses ya"
semoga sekaligus menjadi gugurnya dedaunan duri yang tumbuh subur dalam diriku.
terlelalap dalam lamunan. Setelah ku sadari sejak awal memang telah jauh pergi.
Terberikan aroma ini untuknya, dan kurasa benci tak kuumbar kerena sebuah ketiadaan mu di ruang waktu di sini.
"sukses ya"
semoga sekaligus menjadi gugurnya dedaunan duri yang tumbuh subur dalam diriku.
Senin, 01 Desember 2014
Pagi
Sambutan pagi ini penuh kasih.
Ayahhan mencadai anak lelaki di terasnya.
Ayahanda memandikan putrinya di bak mandi.
Senyum dari mata sadis lunturkan sangka, bahwa kebaikan
mengalir di dalam lekuknya.
Senyum Ibunda yang kutemui di jalan sedang menghadapkan baju
menatap mentari.
Jalan tapakpun penuh dentak senyum.
Langit yang cukup mendung beruntung tak membuat hatiku
semendung dirinya.
Sampai ku telusuri jalan monoton ini hingga di sekolahku.
Jalanpun menghidangkan banyak persaksian cerita.
Rabu, 19 November 2014
Baju merah
Baju merah yang sedang bergelimang merah.
Dekatnya sapi-sapi kehilangan nyawanya. Kambing di seseti danging dan kulitnya.
Tak ku curigai tubuhnya diantara mereka.
Tapi, sebuah kebetulan mata ini menemukannya.
Tak lebih, hanya dapat aura ketenangan tiba-tiba kumiliki. Bahkan tak lebih lama aku duduk diteras ini memandang keramaian.
Aku pergi.
Tapi dilain waktu, sesal itu menghadang.
"APakah terulang kembali"
Kaca mata bapaknya yang sering kutemui.
Tapi di lain waktu hanya satu yang dapat terjadi diantara dua hal.
Bertemu atau tidak.
Walau aku bertanya-tanya..... "kekosongannya"
Dekatnya sapi-sapi kehilangan nyawanya. Kambing di seseti danging dan kulitnya.
Tak ku curigai tubuhnya diantara mereka.
Tapi, sebuah kebetulan mata ini menemukannya.
Tak lebih, hanya dapat aura ketenangan tiba-tiba kumiliki. Bahkan tak lebih lama aku duduk diteras ini memandang keramaian.
Aku pergi.
Tapi dilain waktu, sesal itu menghadang.
"APakah terulang kembali"
Kaca mata bapaknya yang sering kutemui.
Tapi di lain waktu hanya satu yang dapat terjadi diantara dua hal.
Bertemu atau tidak.
Walau aku bertanya-tanya..... "kekosongannya"
Ruang Rahasia
Melamunnya diam membisi
Tak memperhatikan tak pula gubrisnya
Sapda manusiapun seolah ketiadaan Karena ia telah tenggelam pada dunianya
Kerahasiaan yang tak mudah disentuh
Kecuali pemiliknya
Apakah dia menari ataukah tertawa, atau menangis atau bertemu pujaannya
atau sekadar mengulang waktu atau melesat ke depan
Semua itu tak kumengeri
DIa simpan ruang rahasianya dalam keterdiamannya
Tak memperhatikan tak pula gubrisnya
Sapda manusiapun seolah ketiadaan Karena ia telah tenggelam pada dunianya
Kerahasiaan yang tak mudah disentuh
Kecuali pemiliknya
Apakah dia menari ataukah tertawa, atau menangis atau bertemu pujaannya
atau sekadar mengulang waktu atau melesat ke depan
Semua itu tak kumengeri
DIa simpan ruang rahasianya dalam keterdiamannya
Selasa, 21 Oktober 2014
kecup tangan
jangan kau cium tangan ini dek. karena tangan ini tak sesuci tangan-tangan mereka.
Telah terlumuri noda hitam di kedalaman diri hingga menjelmakan rasa keengganan untuk tercium wajah suci dan bersihmu.
sampai kapan selosong noda ini akan terbagi, entah kan hilang dalam sekejap atau berwaktu-waktu, mungkin terus bersanding mewaktu sampai jejal itu terberitahu hilang atau terhancurkan.
Telah terlumuri noda hitam di kedalaman diri hingga menjelmakan rasa keengganan untuk tercium wajah suci dan bersihmu.
sampai kapan selosong noda ini akan terbagi, entah kan hilang dalam sekejap atau berwaktu-waktu, mungkin terus bersanding mewaktu sampai jejal itu terberitahu hilang atau terhancurkan.
Sabtu, 23 Agustus 2014
Ucapan
Sapda apa yang ingin ku raih untuk memberi kesegaran sukma
ini. Atau sebenarnya gelisah ini adalah kekuatan?
Menjadi manusia memang tak semudah kata itu sendiri. Ke
esensiannya memberi banyak celah untuk setiap diri memberi pemaknaannya dan
memberi kesempatan untuk berbeda .
Tapi kadang aku menggugat bosan, kadang aku menggugat
kesedihan dan kegelisahan, dan tenggelam dalam kebersenang-senangan, tapi ternyata semua
itu adalah perjalanan untuk mencipta diri yang terjadi untuk saat ini.
Kebosanan menjadi kata untuk berlatih tetap setia, sedang
gelisah untuk membuat keterkuatan dan keterbangkitan dan bersenang-senang untuk sekadar hiburan. Maka hati carilah
kesegaranmu pada tempat-tempat yang kau mau…..
“Kau boleh pilih bosan, gelisah, sedih atau bahagia”
Ini ucapan…
Senin, 18 Agustus 2014
Menegaskan keheningan
Terkadang ucapku mencipta kekakuan, mencipta keheningan, kedinginan. Keramaian tiba-tiba bungkam sekejap bila nadaku berucap, hingga terdiam bisu terkadang menjadi sandaranku untuk waktu-waktu yang tertepatkan.
Ramai, pertanda ada kehidupan. "Saling tertawa, mencaci untuk tertawa atas nama canda, cerewet, memberi letupan kata yang meletuskan suara riang selaksa mercon kembang api yang dilutut sumbunya akan membakar lalu menjelma menjadi suara dan warna yang indah menghiasi malam kelam.
ku lihat canda makian itu menjadi "Kasih sayang" yang menghidupkan ketegasan hening yang sering kali terpcipta.
TErkadang, terlalu bersalah menegaskan keheningan pada kasih sayang ini.
karena pada suatu sisi, aku memilih ber "kasih sayang" dalam alirannya bila nadaku bisa mencair pada "kasih sayangnya".
Ramai, pertanda ada kehidupan. "Saling tertawa, mencaci untuk tertawa atas nama canda, cerewet, memberi letupan kata yang meletuskan suara riang selaksa mercon kembang api yang dilutut sumbunya akan membakar lalu menjelma menjadi suara dan warna yang indah menghiasi malam kelam.
ku lihat canda makian itu menjadi "Kasih sayang" yang menghidupkan ketegasan hening yang sering kali terpcipta.
TErkadang, terlalu bersalah menegaskan keheningan pada kasih sayang ini.
karena pada suatu sisi, aku memilih ber "kasih sayang" dalam alirannya bila nadaku bisa mencair pada "kasih sayangnya".
Kamis, 14 Agustus 2014
Tentang cinta
Berbicara cinta yang ku dengar dan ku tengok beberapa dari mereka.
Karna cinta hubungan seseorang bisa menjeda. Yang biasanya bisa tertawa bersama, bercanda bersama bisa terbungkam atas nama ia.
Karna cinta pertemanan bisa menjadi penuh benci karena kecemburuan atau karena sang dicintanya mencintai orang lain, dan orang lain itu adalah kawannya sendiri, maka kebencian bisa terjeratkan padanya.
Cinta adalah keindahan, yang pahit seolah berasa manis,.... di sisi lain ia juga menjadi sesuatu yang menyakitkan......
seolah antara kebahagiaan dan kebencian menjadi saling beriringan
Karna cinta hubungan seseorang bisa menjeda. Yang biasanya bisa tertawa bersama, bercanda bersama bisa terbungkam atas nama ia.
Karna cinta pertemanan bisa menjadi penuh benci karena kecemburuan atau karena sang dicintanya mencintai orang lain, dan orang lain itu adalah kawannya sendiri, maka kebencian bisa terjeratkan padanya.
Cinta adalah keindahan, yang pahit seolah berasa manis,.... di sisi lain ia juga menjadi sesuatu yang menyakitkan......
seolah antara kebahagiaan dan kebencian menjadi saling beriringan
Selasa, 12 Agustus 2014
Berbagi
Manusia seringkali pilih kasih dalam berbagi.....
RUput tak berpilih untuk Berbagi dalam keterinjakannya. Bahkan sudah sampai pada tahap pengorbanannya.
Aku ingin menyapa bukan mengatas namakan perempuan atau laki-laki, Manusia.
Niatan bisa kadas mengatas namakan perempuan dan laki-laki. Di kiranya modus.....
RUput tak berpilih untuk Berbagi dalam keterinjakannya. Bahkan sudah sampai pada tahap pengorbanannya.
Aku ingin menyapa bukan mengatas namakan perempuan atau laki-laki, Manusia.
Niatan bisa kadas mengatas namakan perempuan dan laki-laki. Di kiranya modus.....
Jumat, 08 Agustus 2014
Rindu
Terpental bisu. Menatap bosan. Suhu dimana suhu?, kota dimana kota?. Sungguh malasku menghirau karena kulupakannya bersama waktu dengan gulir.
Terjerembab satu rasa yang membuatku bungkam begitu gencar pesakitnya. Rantai belenggu dalam arti keperihan selalu siap menggesek-gesek belati nya dalam degup.
Itukah merindu?. Dalam satu nada aku kepayahan meradangnya, dalam satu yang lain aku membosan pada pada waktu pada fenomena yang sedang kutemui.
"Dalamku tak sesunyi tatapanku . Karena Pertumpahan darah sedang berapi di dalamnya."
Yang berasa perihnya, sambil kebosanan menatap.
"Cabikan lembut yang mematikan suasana, bahwa aku tenggelam dalam rindunya"
Terjerembab satu rasa yang membuatku bungkam begitu gencar pesakitnya. Rantai belenggu dalam arti keperihan selalu siap menggesek-gesek belati nya dalam degup.
Itukah merindu?. Dalam satu nada aku kepayahan meradangnya, dalam satu yang lain aku membosan pada pada waktu pada fenomena yang sedang kutemui.
"Dalamku tak sesunyi tatapanku . Karena Pertumpahan darah sedang berapi di dalamnya."
Yang berasa perihnya, sambil kebosanan menatap.
"Cabikan lembut yang mematikan suasana, bahwa aku tenggelam dalam rindunya"
Kamis, 07 Agustus 2014
kata dan kehidupan
Jangan menutup telinga walau pada kata yang sama. Karna kata yang sama kan memberi makna yang dalam, semakin dalam seiring pengertian yang kita fahami. Bahkan, dapat memberi makna dengan cara yang berbeda.
MOnoton atau keterulangan kehidupanpun tampak membosankan, tapi jadikan ia bagai satu kata yang pertama kali terdengar walau sudah beribu-ribu kali pengulangan.Sisi keberbedaannya akan tertemukan dalamnya.
"Karena satu kata dan kehidupan memimiliki seribu atau bahkan lebih, makna dan cara.
MOnoton atau keterulangan kehidupanpun tampak membosankan, tapi jadikan ia bagai satu kata yang pertama kali terdengar walau sudah beribu-ribu kali pengulangan.Sisi keberbedaannya akan tertemukan dalamnya.
"Karena satu kata dan kehidupan memimiliki seribu atau bahkan lebih, makna dan cara.
menyayangi
Terlalu sayang juga berbahaya (keluarga, anak, kekasih, sahabat), bisa buta pada keadilan.
"Apa karena terlalu sayang, mau melumpuhkan apa yang seharusnya tegak berdiri?"
"Apa karena terlalu sayang, mau melumpuhkan apa yang seharusnya tegak berdiri?"
Lawan
Mentakuti diri, takut, adalah biang petaka, maka hadapi,
lawan dengan berani. “selamlah bila takut berenang “
Langganan:
Postingan (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Lebaran, kau datang cepat sekali. Ramdhan sepertinya tinggal penghabisannya. Aku terlalu mencintai bulan ini. Banyak sekali tilas-tilas sen...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
-
Jujur kurasakan. Asek-asek. Saat menatap Beliau Romo yai, ada sebuah ketenangan sikap. Cara beliau melangkah, menatap, tersenyu...
