Selasa, 02 Desember 2014

sadar

Bagaimana bila aku berada di tengah hutan dan sendirian. kedinginan, sepi, dan bingung. Tapi aku sekarang duduk ruang ini bersama-sama kawanku yang diam dengan kesibukan mereka sendiri. ku fikir ini indah dan menyenangkan sekali daripada sendirian di tengah hutan.
Beberapa waktu aku kehilangan dan lupa keindahan-keindahan seperti ini. Aku selimutinya dengan dedaunan duri di tubuhku yang menutupi segala kompleksitas jagat ini.
"Menikmati"

seseorang

memangkas nyilu yang bersarang. terkatup-katup ku bawa dalam kehidupan. memang tersentak seperti nahkoda kapal pesiar yang terkejut ketika kapalnya menabrak karang.

terlelalap dalam lamunan. Setelah ku sadari sejak awal memang telah jauh pergi.

Terberikan aroma ini untuknya,  dan kurasa benci tak kuumbar kerena sebuah ketiadaan mu di ruang waktu di sini.

"sukses ya"
semoga sekaligus menjadi gugurnya dedaunan duri yang tumbuh subur dalam diriku.

Senin, 01 Desember 2014

1-12-2014




Sandiwara yang kumainkan hari ini
Pura-pura kemayangan terjadi
Berlagu tak peduli tapi fasih sekali ingatannya

Termenung, sambil gedup hati tercaci maki
Kulontarkan auman keras yang hanya terdengar oleh jiwaku

Terbentuk kata untuk terkata… inginnya bicara
Terkesima pada hal bodoh yang pernah suatu lalu terjelma

Tapi mala mini aku bertanya.
Apa yang harus kulakukan dengan ini?

Ngantuk



Tilas hujan masih menepi di jalanan
Mendung masih semangat di langit malam
Dibawah ini , mata kawan-kawan mengantuk
Terasa ingin meletakkan tubuh kelantai dan hilangkan kesadaran

Disebelahku sudah tertidur pulas.
Kitab-kitab terbuka tanpa disimak apalagi terbaca
Mata dan jiwanya tak lagi berkompromi
Menunduk takzhim dan tertidur pulas

Usai dengan ahiran salam dari bibir sang ustat
Para kawan lelaki benar-benar meneparkan tubuhnya ke lantai
AH ngantuk

Pagi




Sambutan pagi ini penuh kasih.
Ayahhan mencadai anak lelaki di terasnya.
Ayahanda memandikan putrinya di bak mandi.
Senyum dari mata sadis lunturkan sangka, bahwa kebaikan mengalir di dalam lekuknya.
Senyum Ibunda yang kutemui di jalan sedang menghadapkan baju menatap mentari.
Jalan tapakpun penuh dentak senyum.
Langit yang cukup mendung beruntung tak membuat hatiku semendung dirinya.
Sampai ku telusuri jalan monoton ini hingga di sekolahku.
Jalanpun menghidangkan banyak persaksian cerita.
               

Jumat, 28 November 2014

Laba-laba


Jaring laba-laba kecil.
Saling mengikat membentuk ruas-ruas rumahmu.

Sedang awan mendungkan jiwanya.
Sebentar lagi turun hujan.
Mensucikan bumi cinta.
Walau remuklah rumahnya.

Hay laba, kau bangun rumahmu.
Tanpa suami, kau rawat anakmu
Menggelantung di tiang pohon yang tandu
Basah air tangis hujan menghancurkan tapi tak kau sesalkan.

Engkau berlari membangun yang baru
Tak ku dengar tak lihat gores sedihmu
Kau lanjutkan hidupmu.

Rabu, 19 November 2014

Baju merah

Baju merah yang sedang bergelimang merah.
Dekatnya sapi-sapi kehilangan nyawanya. Kambing di seseti danging dan kulitnya.
Tak ku curigai tubuhnya diantara mereka.
Tapi, sebuah kebetulan mata ini menemukannya.

Tak lebih, hanya dapat aura ketenangan tiba-tiba kumiliki. Bahkan tak lebih lama aku duduk diteras ini memandang keramaian.
Aku pergi.
Tapi dilain waktu, sesal itu menghadang.

"APakah terulang kembali"

Kaca mata bapaknya yang sering kutemui.
Tapi di lain waktu hanya satu yang dapat terjadi diantara dua hal.
Bertemu atau tidak.

Walau aku bertanya-tanya.....    "kekosongannya"

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...