Senin, 01 Mei 2017
"Kakak kecil"
aku kira kau lebih tua dariku kak.
glagatmu yang selalu membisikkan kata semangat pada adek-adekmu di tempat ini. mungkin aku diantaranya.
semula suaramu mengkacaukan pikiranku
"Tak ada lelaki di dalam sini. terutama di siang panas terik ini"
Tapi suaramu beradu bersama deru angin.
tapi saat keluar. itu suara milikmu. dan kerudungmu indah, wajahmu, mungkin sedikit lebih lelah.
kukira pula. enkau lugu, dan pemalu. saat pertama mataku menatap mu di kesunyian malam.
namun dimalam lain
kau lebih periang yang terkira.
indah namun asli.
jika waktu per izinkan kita bertemu di suatu detik di bawah genting.
aku ingin mengenalmu.
"Kakak kecil"
glagatmu yang selalu membisikkan kata semangat pada adek-adekmu di tempat ini. mungkin aku diantaranya.
semula suaramu mengkacaukan pikiranku
"Tak ada lelaki di dalam sini. terutama di siang panas terik ini"
Tapi suaramu beradu bersama deru angin.
tapi saat keluar. itu suara milikmu. dan kerudungmu indah, wajahmu, mungkin sedikit lebih lelah.
kukira pula. enkau lugu, dan pemalu. saat pertama mataku menatap mu di kesunyian malam.
namun dimalam lain
kau lebih periang yang terkira.
indah namun asli.
jika waktu per izinkan kita bertemu di suatu detik di bawah genting.
aku ingin mengenalmu.
"Kakak kecil"
Cantrik ing ngumboro part 3
Seniman pesantren
Dalam suatu kesempatan kita dipertemukan. Kita satu tim dalam suatu hal, perjuangan,pengorbanan, pengapdian…. Apalah itu
Awalnya saya canggung berbicara padanya. Tapi seiring berjalannya waktu saya senang bertukar kata padanya. Membicarakan hal-hal yang sama-sama kita suka. Gambar, anime, naruto, film, kadang mencari lagu-lagu yang cocok untuk lalaran nazhom kita,, hehe Tanwir.
Dan menurutku dia seniman keren. Goresan-goresan dalam kanvas kecil di tangannya begitu hidup dan segar. Dan suatu hari kelas kita diberi kesempatan mengisi acara tahunan. Acara yang setiap kelas hanya bisa satu kali menampilkan.
Kini tiba giliran kelas kita (AR).
Dan tentu tak bisa tidak , dia jadi tim dekor.
“Sangat sayang talenta sekeren itu tidak diberi ruang” menurut fikiranku yang kusimpan dalam pendam paling dalam.... haha
terpanggil acara ini adalah, Jamda.
Beberapa hari dia dan patnernya melukis dalam kertas untuk dekor tersebut. Sampai tiba waktunya.
Gampar pohon-pohon hitam itu di temple di dinding. Begitu besar. Juga satu gambar elang besar.
Kata orang cantrik itu kolot, kudis…. Ketinggalan peradabanlah…. Ucap-ucap seolah lutur saat ku melihat dia. Dan dia adalah satu diantara ribuan manusia disini yang berlum kukenali lebih dekat.
Teruslah berkarya dan belajar kawan. Ku tunggu gores tanganmu beradu dalam lembar apapun.
Cantrik ing Ngumboro Part 2
Jujur kurasakan. Asek-asek.
Saat menatap Beliau Romo yai, ada sebuah ketenangan sikap. Cara beliau melangkah, menatap, tersenyum. Seolah kerahasiaan-kerahasian hidup banyak telah beliau lewati dan ketahui .
Dan ketika ku betukar kata dengan kawanku dari lampung. Dia juga berpedapat seperti itu kiranya. Melihat tujuan atau alasannya mengapa memilih jalan seperti yang kupilih.
Sampai-sampai setiap pembahasan dari kajian-kajian beliau seperti memberi nafas lega dalam setiap deru penat. Walau terkadang harus kuteteskan air mata.kenapa pas sekali dengan pertanyaanku dalam kesunyian yang menggelisahkan setiap hari dan waktu.
Bahkan hal-hal kecil yang mengkacaukan pikiranku dan rasanya tak perlu terbahas ternyata ada jawabannya. Dan setelah itu baru kusadari , sekecil apapun patut untuk di bahas.
“Jangan sepelekan hal-hal kecil”
Kalau ditarik dalam suatu ibadah kepada Tuhan, atau persembahan. Dalam ilmu agama mengatakan. Untuk tak mengabaikan hal-hal kecil.
“Rak reti ibadah seng di seng di terimo” Tutur beliau.
Seperti cerita perempuan pelacur yang masuk surga hanya karena dia memberi minum anjing yang kehausan.
Tentang bersikap kepada para pembenci kita. Balas mereka dengan kebaikan. Itu akan membuat mereka malu.
Cemooh, para pembenci , penghina beliau sudah banyak. Namun justru memperlihatkan beliau adalah seorang yang baik. Dan dengan semua itu beliau tak membalas dengan kebencian pula. mungkin dengan do’a. melihat ketika ada santri nakal justru do’a-do’a kebaikan untuknya terselip.
Toh sepertinya membalas pembenci terkadang hanya akan menambah balasan benci dari pembenci.
Cantrik ing Ngumboro (santri di pengembaraan) Part 1
Pelajaran bahasa arab. Menurut beberapa orang menjadi hal yang horror. Terutama saat tamprin (latihan ujian ) atau saat ujian. Menjadi hal yang di wanti-wanti saat itu. Namun bagi penyandang itu sendiri terlihat keren (menurutku) “Guru bahasa arab”.
“Ya begini kalau tak didasari dengan cinta” Ucap Umi (guru yang berbagi ilmunya) melihat sikap beberapa cantrik seperti itu.
“Semua akan mudah bila didasari dengan cinta. La kalian nggak cinta, jadi terasa sulit “
Dalam musyawaroh. Cantrik-cantrik biasa debat hal-hal yang keren meski kadang terdengar hal yang aneh tapi masih seputar pembahasan.
“But, itu seru sekali. Dari situ mereka belajar berproses berbicara, kritis. Biar mereka tak terbiasa taslim (manut, melu-melu).”
Dan Umi-Umi mengontrol acara setiap siang ini, guna acara itu selalu berjalan di tiap harinya. Karena tak dapat dipunggkiri, dalam rutinitas bermakna sekalipun, orang bisa tertidur pulas dan merasai kejenuhan yang hebat. Terlihat dari celetukan mereka.
“Pengen pulang, tapi masih lama”.
Selain itu beliau-beliu mensohehkan pembasahan yang sedang didalami pada puncak waktu sebelum agenda itu selesai. Dan ada pencatatan dari kesimpulan muswaroh itu guna untuk pembukuan atau masih di cari kebenaran jawaban tersebut.
Pagi di local (Ruang belajar), umi bahasa arab Bertutur
“ sebenarnya kemarin saya ingin mengontrol kalian di musyawaroh tapi saya nggak bisa”
“Lo, enten nopo’o Mik (lo memang ada apa, mik?)
“Jaga wedang (minum )di dhalem (rumah pengasuh). Soalnya banyak banget tamu, beliau”
Aku melihat pemandangan indah disini. Kederhanaan dan pengapdian beliau pada guru-gurunya. Kita (para cantrik) selain membiasakan diri untuk belajar bertatakrama dan ta’zhim terhadap orang-orang yang telah bersedia merelakan waktunya untuk berbagi, beliau-beliau pun juga mengawali itu semua dalam sikap-sikapnya.
Beliau adalah guru bahasa arab namun takzhim beliau terhadap gurunya juga besar. Terlebih saat ahir tahun. Ketika kawan memberi tahu siapa calon gerangan mustakhik kami satahun esok.
“Kae lo, seng ngangkati kursi (Itu lo yang sedang mengangkat kursi)”
Biqodri ta’zhimi al ustazhika najaakhuka Kadar kesuksesanmu dari seberapa memulyakan gurumu.
Orang itu
Suaramu agak parau
Kau dedang nadamu Tapi kau seperti mengfikir sesuatu
Mataku beralihmu
Kesedihanmu menjalar dalam anganku
Ingin kucoba tanya
Tapi mulutku tercekak kekakuanku
Hanya menatap dari kejauhan
Sambil mengira yang terfikirkan
Terus berfikir walau kadang tawamu
Seperti simpan duka
Ya
ku hanya mengira
Sebab kau munculkan semua itu
Dalam sayembara kepiluan
Di wajahmu *Fy
Kamis, 16 Juni 2016
Tempat itu
aku tidak mengerti kenapa hati ini bergetar.
padahal kutahu. tak ada sesuatupun yang kutunggu dan kumalu menghampirinya.
mungkin karena sudah lama aku tak kemari. hingga rasanya, malu perih pun bersemi
seperti di taman asing.
aku bagai orang asing yang padahal aku sangat mengenal tempat itu
tapi sekarang.
untuk injakkan kaki saja
aku banyak beralibi
hingga langkah seralu urung melangkah.
aku ingin biasa.
keluar pergi juga biasa
biar aku bisa mendengar, berbagi tanpa beralasan\
ya
sekadar bertukar sapa kiranya
padahal kutahu. tak ada sesuatupun yang kutunggu dan kumalu menghampirinya.
mungkin karena sudah lama aku tak kemari. hingga rasanya, malu perih pun bersemi
seperti di taman asing.
aku bagai orang asing yang padahal aku sangat mengenal tempat itu
tapi sekarang.
untuk injakkan kaki saja
aku banyak beralibi
hingga langkah seralu urung melangkah.
aku ingin biasa.
keluar pergi juga biasa
biar aku bisa mendengar, berbagi tanpa beralasan\
ya
sekadar bertukar sapa kiranya
Langganan:
Postingan (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Lebaran, kau datang cepat sekali. Ramdhan sepertinya tinggal penghabisannya. Aku terlalu mencintai bulan ini. Banyak sekali tilas-tilas sen...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
-
Jujur kurasakan. Asek-asek. Saat menatap Beliau Romo yai, ada sebuah ketenangan sikap. Cara beliau melangkah, menatap, tersenyu...