Selasa, 22 Juli 2014

Mencari

kawan tak pernah tahu sebenarnya. Ia hanya menduga-duga saja seperti apa. Tipikal diam, cerewet atau biasa, tersandangkan karena  melihat kebiasaan memandang seperti itu. Hanya saja itu bukan kepastian yang dapat dipastikan.

Tempat. waktu, kondisi, suasana, dan momen bisa membuat orang berlaku apa dan berbeda.... "jika menilai tak perlu cepat bersimpul, karena hanya kan terjebak pada ketidak pastian" bahkan aku pun yang seolah paling mengenal diriku dari pada kawannya, tak benar-benar memahamiku"

manusia, aku, ia selalu berubah..... "mungkin pehaman yang ada setelah menilai terkadang hanya berlaku saat itu ada beberapa hari saja "

Atau penilaian itu hanya berlaku pada tempat itu dan kepada orang yang dihadapi. kepada yang lain. Diwaktu lain dan kondisi lain, yang semula tampak pecundang, pendiam, hanya bisa ikut-ikutan, ia jadi tampil tak terduga.
 

walau begitu, tetaplah memahami, dan terus memahami. seperti para filosof yang terus saja mencari kebenaran....   "seolah tiada kebenaran sejati".

lalu untuk apa mencari dan memahami toh tak pernah tercapai kata pasti......

"setidaknya dalam proses pencarian itu ada banyak hal yang kan dapat ditangkap mata, pendengaran, hati, dan fikiran untuk pembelajaran"

ada yang berkata, bahwa " sejatinya hidup adalah bertanya"

aku tak bilang tidak, juga tidak meng iyakan. Namun terkadang dengan bertanya hidup menjadi seperti hidup, karena mencoba tak mencari kan membawa pada kegelapan makna, hingga "memenjarakan diri dalam kegersangan hidup yang terus saja mengalami pengulangan".

tapi tanya, mencoba menjawab, bertanya lagi, mencoba menjawab lagi...... "memberi kehidupan tersendiri dalam diri"

tak sekedar memahami manusia, tapi semua yang ada........

walau beribu-ribu manusia telah menanyai dan melukiskan lewat kata dan karyanya, mencari sendiri dan memahami sendiri rasanya perlu, karena kita bisa memunculkan makna dan  bahasa yang lain.



Kamar yang melayang




Selembar berkelebatan.Tak lantas aku jemu untuk menuang. Aku ingin menuang apa saja yang tertuang. Karena aliran dalam kata ini tak lantas kufikirkan. Biar ia mengalir sendiri dalam pelukan lalu mengkabarkan pada dunia dengan kata-kata yang tersimpan makna di setiap sela-selanya.

Kicauan burung, kudengar dari luar rumah.Suara riuhnya tak hanya dengan satu nada akan harmonisasinya. Ada berbagai suara, karena mungkin yang berkicau tak hanya satu. Dua atau tiga mungkin ada.
Kata dalam diri terkadang tak berupa. Hanya ia kan berwujud menjadi huruf-huruf  yang berjajar bila di keluarkan dalam pena yang tumpah pada putihnya kertas bisu. Bahkan kata dalam diri bila hanya terucap kata tak selalu benar adanya, karena ia kebingungan untuk merangkainya.

Hingga tak semua ungkap diri dalam bicara kan dimengerti bahkan kantersimpulkan.

Maka aku lari dalam putihnya, sekedar untuk berbagi.

Aku duduk bersama kawan-kawanku, di dalam kamar ini. Meski kita terlihat bersama, namun diri kita telah terlempar jauh ke angan kita masing-masing.Setiapdari diri kita tenggelam dalam dunia kita sendiri yang kita buat. Menari-nari dengan imajinasi kita.

Ruang ini sepi, hanya terisi suara dari tv yang menggemadari ruang tamu. Aku tak peduli,  ku rasa pagi ini aku lebih suka sunyi bersama kawan-kawan yang sedang terbang jiwa-jiwanya.

Aku tamati pada sepinya, tamati terbang mereka.Walau wajah kusut serta dahi yang mengkerut yang di hadapkan padaku, aku kira itu hanya wajah, mungkin hati mereka sedang tertawa atau berbunga-bunga dengan dunia mereka.
Semula aku juga seperti mereka.Tubuh ada menjelma bersama mereka, tapi jiwaku melayang pada duniaku.Tapi kini aku ingin mencoba mensadari, menengokdunia yang ditinggalkan ini. Mencoba mengeyam rasanya, suasananya dan warna yang terjadi.
Terdengar suara ketikan dari jari-jemari mereka, oh mereka sedang berusaha menuangkan kata dalam diri mereka yang belum terlihat berjajar, agar tariandunia mereka menjadi berupa walau hanya mewujutdalam bait-bait kata.

Aku mengamati mereka yang sedang terbang di dunia mereka, walau takjelas seperti apa dunianya yang mereka tapaki.

Dan aku ingin bertanya, “apakah kalian melihatku daridunia kalian saat akumenamati?”

Ah sepertinya jarak dekat, terasa begitu jauh. Baja kuat selaksa menutupdekatnya kita di ruang ini. Meski raihan tanganku dapat sampai di wajah kalian, ruang ini akan sangat terasa amat jauh saat fikir kalian benar-benar terbang walau meninggalkan tubuh tergeletak di kasur ini.

(Desa Panimbo, berandai mengulang waktu)

Terawih





              Dalam masjid telah penuh orang-orang mengisi seisi ruang yang ada. Tinggal serambi yang tersisa untuk dapatkan ditempati.
               
 Memang pilihan yang ada adalah ketenangan susah di raih. Namun bila dapat raihnya maka sholat di pinggir jalananpun rasanya bisa tetap tenang walau kendaraan tak mau bungkam sejenak.
                 
Bunyi suara jeritan kecil mewarnai. Bocah-bocah kecil oleh ibu-ibu mereka mungkin tak tega meninggalkannya di rumah, hingga mereka ikut dalam ibadah yang di lakukan sang ibundanya.
                 
Mereka bertemu kawan-kawan yang lain mereka, hingga asik bermain sendiri. Teriak-teriak, menari, lari-larian.Bercerita, yang hanya mungkin mereka saja yang mengerti
               
 Seolah serambi pada bulan ramadhan ini tak akan pernah sepi dari teriakan mereka.
              
 Benar-benar ramai dan riuh, hingga kerap kali suara yang telah kehilangan lucunya akibat bersatunya suara-suara yang ada hingga menenggelam suara sang imam dalam sholat.
                 
Walau kerap kali bocah kecil itu berlarian melewati sajadah milikku tetap tetap tak menghalangi saat sujud dan ruku’ ku.

Jumat, 18 Juli 2014

Kehilangan?

Cekat lidah ku terbata. Mencoba mengeja pada kata, tentang rintik-rintik yang gemetaran di kepala. Sambil berbisik minta tuk di keluarkan,tapi rangkaiannya tak sehalus air yang mengalir apa adanya.

Bila bicara tentang kehidupan, maka aku temu pada suatu detik terjerat rintik itu.

Dimana banyak suara yang begitu tak rapi disambarkanberbagai bentuk nada, suara, dan intonasi yang tercipta begitu berbeda.

Beberapa hari yang yang bagai bayang pernah terjadi, membuat kesan tindih begitu menjerat tusukan bisu yang dengan bahasa hati kan terdengar apa maksudnya.

Semua yang pernah terjadi terekam pada ejaan momenta, dimana waktu, ruang, nafas, alam,bergulirnya waktu, cerita, tawa, duka, haru,istimewa, spesial, jengkel, kemarahan, tersimpan pada gudang penyimpanan yang kini hanya tingggal kenangan.

Kusadari, bahwa kita selalu saja mengalami kehilangan, bertemudan mencoba meng ikhlaskan, walau beberapa kehilangan itu ada yang harusberulang kali menepuk dada karena isak yang terlalu dalam. Adapula kehilanganyang terlupa, bahkan ada, merasa kehilangan pun tak menjamah fikirannya, adak ehilangan, ya memang harus hilang.

Mungkinkah sejatinya hidup adalah kehilangan?, ataukansebenarnya itu kewajaran?

Setiap hari selalu kehilangan, selalu dan selalu. Tak harusberwujud manusia, alam, hewan, sedih, tawa, tapi juga kenangan, nafas, suara,seseorang, bahkan debu yang detik  kesembilan belas lalu telah terbang terbawaangin (semisalnya).

Rasanya sedih, menyadari bahwa kehidupan terus mengalamikehilangan, pertemuan dan bersiap tuk kehilangan kembali.

Ia terus ada sampai waktu bergulirnya pada setiap diri telah tercerabut dari akar jiwanya, maka mungkin  jawabannya adalah mengikhlaskan bila tak ingin terus menumpuk duka atas hilang yang tak pernah berhenti. Lalu mempersiapkan keikhlasan yang lain.

“Kehilangan adalah kewajaran, walau hanya kehilangan detik yang terisi diam dalam senyuman di hati yang tiada rupa pada kiasan wajah”

Bagai bangun dari mimpi yang terbangun tepat sebelum bersiap untuk kehilangan yang lain

Kamis, 17 Juli 2014

Tak pemilik


Aku tak memiliki membentuk diri. Bentukan-bentukan yang terjadi pada semestapun tak pernah memiliki menjadi atau memilih. Tapi manusia memiiliki kebebasan walau sudah pada ruang dipilihkan yang dalam pandangannya masih buram pada detik satu dua atau tiga yang masih nanti.

"Jiwa dan raga ku, Engkau pegang erat, hingga sedikitpun nanar pandang Mu tak pernah lepas, walau ingatku sering kali terabai".

"ingatkankan jiwa ini kembali, Robby"

Senin, 14 Juli 2014

mengulang

Mengapa dunia berputar hingga memberi jelmaan malam dan siang?. setahun sekali ia berhasil memutari matahari dari dulu hingga sekarang belum terlihat adanya tanda-tanda berhenti. bulan elok terpampang di canvas langit juga memutari bumi.
  jangan sebut manusia, karena ia pengulangan yang sesekali ku di buat bosan, kenapa aku termasuk dalam pengulangan walau beda jiwa.

tak peduli bumi ini ku tapaki atau tak ku tapaki toh pada selalnjutnya di gantikan dan akan digantikan.

pengulangan demi pengulangan terus terjadi....

tapi kiranya pengulangan akan tetap pengulangan, tapi adakah dibalik mengulang?

pengapdian?

"kiranya meni'mati kebosanan dan kehambaran perlu untuk sesekali mengecap sisi karunia-Nya, walau dengan nada bosan"

Alhamdulillah..

Kamis, 10 Juli 2014

kehidupan bayang

seolah beberapa tahun yang lalu adalah mimpi sesaat yang lalu terbagun tepat sebelum hari esok ku.  "BAgai bayang yang sangat singkat"

Aku, lalu, adalah bayang kenangan

jangan cari aku laluku.
jangan cari aku depan ku.
aku yang asli ada pada detik dan waktu dan hari ini....kemarinnya untuk besok adalah hari ini  "selalu, selama nyawa masih dilekatkan dalam diri yang tak ku ketahui dimana letaknya."

mati, maka kan mengerti bahwa perjalan kehidupan hanya banyang yang sangat singkat....

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...