aku tidak mengerti kenapa hati ini bergetar.
padahal kutahu. tak ada sesuatupun yang kutunggu dan kumalu menghampirinya.
mungkin karena sudah lama aku tak kemari. hingga rasanya, malu perih pun bersemi
seperti di taman asing.
aku bagai orang asing yang padahal aku sangat mengenal tempat itu
tapi sekarang.
untuk injakkan kaki saja
aku banyak beralibi
hingga langkah seralu urung melangkah.
aku ingin biasa.
keluar pergi juga biasa
biar aku bisa mendengar, berbagi tanpa beralasan\
ya
sekadar bertukar sapa kiranya
Kamis, 16 Juni 2016
Minggu, 12 April 2015
Ibu
Entah mengapa aku tak bercita-cita menjadi seorang ibu. Karena aku merasa, aku tak sebaik ibuku dalam menjaga, merawat dan bersabar pada anaknya.
Jumat, 10 April 2015
cinta
apa kata cinta begitu hebatnya, hingga bisa membuat seseorang menjadi tiba-tiba memiliki gairah hidupnya atau malah terpuruk karena tenggelam dalam kerinduan. atau karenanya juga, sebuah cerita menjadi seperti ada ruhnya. Berdegup penuh antusias ingin tahu siapa nama dihatinya..... atau cinta adalah bagian hoaxxx dalam kehidupan seseorang.... sehingga membahas nya saja rasanya ingin menutup telinga....
Apalah itu.....
Apalah itu.....
Selasa, 07 April 2015
Tulisan “Jelek”
Aku
tahu betul tulisanku yang dalam sudut pandang yang sempit, “Jelek”. Dan lebih
kukuh lagi, terdengar dari beberapa orang yang mengatakannya . Entah secara blak-blakn atau hanya secara sindirian.
Kakakku,
ibuku dan kawan-kawanku dimana tulisannya mereka yang lebih bagus telah mengakui.
Dalam jiwaku kusandarkan makna
“Nerimo
ing pandum” sebagai tepukan bagi hatiku
Lantas
kubayangkan orang-orang hebat seperti baginda Muhammad yang hebat itu ternyata
ummi . dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang ternyata tulisannya “Kurang
bagus”.
Lalu
ketika aku kembali pada diriku sendiri.
Tulisanku
jelek = iya
Hebat = ???
Tiba-tiba
saja anak-anak kecil itu menghampiriku. Menamati saat kumenulis tulisan ini di
buku tulis. Kulihat tak berubah dahi mereka yang datar menjadi mengkerut.
“Tulisan
mu jelek” Kukira kata ini kan mereka lontarkan. Ternyata tidak.
“Nulis
opo mbak?” Tanya salah satu dari mereka.
“Nulis-nulis.
Mau nulis?”
Dengan
antusias salah satu anak itu mengambil pena yang kuulurkan padanya. Mereka mencoret
kertas kosong samping tulisanku.
Mereka menulis
nama mereka sendiri dan temannya.
Sampai usai
sholat isa’, ustat kembali ke serambi masjid sekaligus tempat belajar kelas ini.
Anak-anak
kecil itupun pergi dan pindah halauan permainan. Dimana sebelumnya main tulis-
menulis lantas main sebaran kertas kumal dari tangga atas, setelahnya
lari-larian.
“Waw
seru sekali. Bila hp, laptop tak mereka pegangi. Lalu memutuskan untuk
berkumpul bersama. Maka kertas, pulpen, tanah pun jadi permainan yang mereka
ciptakan. Permainan yang mereka ciptakan tujuan simple (menurut yang kulihat)
yaitu “Menciptakan kegembiraan bersama”. Ujar hatiku
Dan
kulihat dalam perkumpulan anak-anak yang menggangguku itu (sebenarnya
menemaniku dalam kesepian yang sementara) mereka dengan sendirinya berlatih
membuat kesepakatan lalu mereka menjalaninya bersama. (hahaha)
Ketika kembali
kulihat coretan mereka di bukuku. Aku tersenyum .
“Tulisanku
ada temannya. Pantes mereka tak mengejekku”
Senin, 06 April 2015
Kentut
kentut....
ada kerutan dahi saat mendengarnya, ada tawa pula saat mendengar, ada urat malu saat tak tepat mengeluarkan. Tergantung
Hanya saja... dia bagai kehidupan.
kehidupan yang akan hancur, dan akan pergi , .... waktunya memang lebih lama dalam proses keterpergiannya .ya, Yang membedakan hanya soal waktu.
HIdup kayak kentut saja orang-orang masih acap kali demi nafsunya mengejar-ngejar didalamnya. Dan sialnya. seringkali aku masuk didalamnya.
ada kerutan dahi saat mendengarnya, ada tawa pula saat mendengar, ada urat malu saat tak tepat mengeluarkan. Tergantung
Hanya saja... dia bagai kehidupan.
kehidupan yang akan hancur, dan akan pergi , .... waktunya memang lebih lama dalam proses keterpergiannya .ya, Yang membedakan hanya soal waktu.
HIdup kayak kentut saja orang-orang masih acap kali demi nafsunya mengejar-ngejar didalamnya. Dan sialnya. seringkali aku masuk didalamnya.
Kamis, 19 Maret 2015
Dedaunan
Ada lagu “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa
dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia”
Juga
ada lagu, “Dunia sekolah kami semesta laborat kami, kehidupan pustaka kami
siapapun itu guru kami”
Ya,
alam, pengalaman, kehidupan bisa memberi kita banyak pelajaran, tinggal apakah
fikir, mata, telinga dan mulut digunakan untuk memahami itu semua. Ada hal-hal
yang disampaikai dari buku secara struktur, namun jangan terjebak pada itu saja
karena alam terlalu semesta luasnya mengandung berbagai makna.
Ada yang
berkata “ pelajaran terpenting adalah pengalaman.
Pernah
suatu waktu, dikala tanganku menggayuhkan sapu membersihkan taman sekolah
bersama kawanku. Dedaunan yang gugur di lantai-lantainya membuat tampak kotor
tempat ini. Disisi lain memang kelasku oriza sativa yang hari ini mendapat
bagian untuk memberesi semua itu atau piket biasanya kami menyebut.
Dari
kejauhan atas, tiba-tiba tampak sesosok yang berdiri dengan tubuhnya, begitu
serius tatapannya, mengeluarkan Tanya yang seolah hanya candaan belaka.
“Kenapa
kalian sapu, toh nanti juga kotor lagi” ucapnya begitu serius.
Kujawab
seadanya karena kukira hanya cadaan belaka.
“Ben
resek”
Selang
beberapa waktu setelah obrolan itu, ia langsung pergi.
Namun
gara-garanya aku jadi berfikir pertanyaan yang nggak penting itu, hehe mungkin.
Aku
terus mencari, namun rasanya begitu buntu. Apa maksudnya.
Hingga
pertanyaan yang hampir sama bermunculan di fikiranku.
“Kenapa
harus hidup kalo toh nanti kita mati?”
“Apa
bisa sampah ini bersih dengan sendirinya?”
` “Hais
asem, gor pertanyaan sepele gini saja susah kali mau menjawab”.
Sampai hari ini berlalu makin
berlalu. Tanya itu kadang teringat, kadang pula pergi. Kadang teringat, hingga
membuat aku ingin berfikir, kadang pergi. Sampai aku dapat jatah piket lagi.
Daun-daun
kusapu, biar bersih paras mukanya. Walau ada beberapa kotoran ayam yang
bercecer-cecer.
Dari
sana aku berfikir. Daun dan sampah-sampah ini, mungkinkah ia tersapu dengan
sendirinya atau bersih dengan sendirinya bila tak ada tangan yang
menjangkaunya?. Tidak, tidak bisa, harus ada tangan dan gerakan yang membuat
sampah ini pergi. BIla dibiarkan terkatung-katung di lantai taman ini, akan
membuat tumpukan sampah lain dan tumpukan lain.
Jadi
bergunakah tanganku membersikan sampah ini kalau toh besok masih ada sampah
lagi?, tentu, setidaknya kawan besok yang piket mendapat sampah yang baru, dan
tak mendapat tumpukan sampah hari ini. Atau misal besok aku membersihkan sampah
lagi, akan jauh ringan dalam menyelesaikannya.
Pun dengan
ke kurang kerjaan ku kukaitkan dengan hal lain seperti hanya “Masalah”
Sampah ibarat suatu masalah. Ia
akan bertumpuk, bila satu masalah saja tak coba di selesaikan, lalu datang
masalah lain. Dan masalah tak akan selesai dengan sendirinya kalau bukan kita
sendiri, gerakan kita sendiri yang menyelesakaikan.
Entah
jawaban sebenarnya dari orang itu apa, aku tidak tahu, hanya saja dari
pertanyaan itu aku mendapat suatu pembelajaran, asek.
Menengok
alam, menengok kehidupan. Sadari ada pembejaran disana.
“Berbagi
waktu dengan alam”
Jumat, 13 Maret 2015
Selingkar
terjerembab dalam rasa ini. Aku menyatu dengan suasananya. kebersamaan duduk hampir melingkar, berkata-kata tak peduli sepuitis apa yang penting saling mengert, memaklumi dan menghargai.
Langganan:
Postingan (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Lebaran, kau datang cepat sekali. Ramdhan sepertinya tinggal penghabisannya. Aku terlalu mencintai bulan ini. Banyak sekali tilas-tilas sen...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
-
Matanya lebam. Lekukan wajahnya tersirat letih. Auranya terhias kesedihan. Ia duduk bersandar dipan didepan rumahnya. Terpantau manu...
