Selasa, 30 Desember 2014

Memoar Status

Mungkin sedikit alay. Namun entah mengapa aku menyukai ke alay an ini. Menyimpan apdetan status....hahaha

BIar suatu hari, bila sepasang mata ini membacai lagi , biar ia sadar, bahwa ia pernah lewati perjalanan ruang, waktu dan suasana itu.

 Facebook
 
Semua jadi soal pilihan....
Maka itu diserahkan pada setiap diri. Terkadang seperti kutukan, harus memilih dan bertanggung jawab atas sesuatu yang dipilih.
Memilih untuk tidak memilihpun itu pilihan. dan darinya tak bisa lepas dari akibatnya.


Al Ghozali tak lagi hidup, Rumi dan orang yang telah meninggalkan bumi ini tak lagi hidup. Namun mereka telah mengakar dan serasa masih hidup. Di hati kita.
Memori ,jejak atau kenangannya yang menghidupkan jazad-jazad yang telah kembali di pangkuan Tuhan.
Tapi yang hidup sekalipun bisa mati…. Jika dia telah mengering dalam ingatan dan hati.
Kata Tuhan telah mati adalah mengeringnya keberadaan Tuhan dalam hati manusia.
Maka hati ini masihkah ada?



bila bahagia harus dengan kotak kecil ditanganya, mengghubungkan dengan orang-orang jauh, atau dengan kotak yang agak lebih besar bisa melihat orang beradu ekting atau menunggu ada yang lain untuk diajak bicara dan tertawa atau menuggu ada seseorang yang dicintai datang atau membuka media sosial, tapi sepertinya dia tak perlu dengan semua itu hanya untuk meraih satu kata "Bahagia". karena Tanah kosongpun, ia warnai dengan imajinasinya.
"Berteman dengan dirinya sendiri"


Mungkin memendamnya adalah keselamatan untuk hal keadilan. Tapi lebih selamat lagi bila tak memendamnya karena tak ada yang harus dipendam. Tapi siapa yang yang bisa menghindari?. meneguknya bukan pilihan namun bagai dipilih untuk dipaksa menelannya. Orang bisa bahagia atas paksaan itu, bisa juga kesakitan, bisa menjadi kekuatan tapi juga bisa membutakan keadilan.
begitu juga kebencian. kita tahu, benci dan keadilan adalah suatu hal yang berbeda. Namun rasa terkadang mempengaruhi dalam hal mengambil keputusan.
SUlit..... tapi ini tantangan kehidupan..... "BIsakah tetap adil saat cinta atau benci berhinggap?" Membela yang benar walau orang itu dibenci, dan mensalahkan yang dicintai jika dia salah.....


seperti diary. foto pun penanda waktu. Penghadirannya memberi rasa atas suasana setiap foto keterjadiannya.
bukan untuk disesali karena berlalu, bukan untuk kembali karena merindu tapi untuk mengecap rasa, pengertian, dan makna bahwa semua itu terada sebagai langkah perjalanan hidup.

Kamis, 04 Desember 2014

Pergi tuk kembali



Aku mudah mencintai. Mencintai Seperti halnya suasana ini. Mencintainya tak ingin cepat pergi, walau sekuat apapun ku menghentikan waktu dan mengulur langkah kepergian, toh tiada guna. Semua tetap berlaju begitu saja. Meninggalkan tilas salam yang masih teringat di jari jemari ini.
Masih kerudung-kerudung itu teringat jelas dalam ingatanku. Tentang kedatangan mereka seperti mengisi kosong dengan kebisingan, begitu berisik tapi membuat rindu yang ingin terulang kembali gemiricik kicauan nya.

Langah pergimu jangan selamanya tinggalkan tanah ini.Pada suatu hari nanti kembalilah untuk menginjak kembali tapak yang hari ini kau injaki.

Aku menanti saat itu…..

Selasa, 02 Desember 2014

sadar

Bagaimana bila aku berada di tengah hutan dan sendirian. kedinginan, sepi, dan bingung. Tapi aku sekarang duduk ruang ini bersama-sama kawanku yang diam dengan kesibukan mereka sendiri. ku fikir ini indah dan menyenangkan sekali daripada sendirian di tengah hutan.
Beberapa waktu aku kehilangan dan lupa keindahan-keindahan seperti ini. Aku selimutinya dengan dedaunan duri di tubuhku yang menutupi segala kompleksitas jagat ini.
"Menikmati"

seseorang

memangkas nyilu yang bersarang. terkatup-katup ku bawa dalam kehidupan. memang tersentak seperti nahkoda kapal pesiar yang terkejut ketika kapalnya menabrak karang.

terlelalap dalam lamunan. Setelah ku sadari sejak awal memang telah jauh pergi.

Terberikan aroma ini untuknya,  dan kurasa benci tak kuumbar kerena sebuah ketiadaan mu di ruang waktu di sini.

"sukses ya"
semoga sekaligus menjadi gugurnya dedaunan duri yang tumbuh subur dalam diriku.

Senin, 01 Desember 2014

1-12-2014




Sandiwara yang kumainkan hari ini
Pura-pura kemayangan terjadi
Berlagu tak peduli tapi fasih sekali ingatannya

Termenung, sambil gedup hati tercaci maki
Kulontarkan auman keras yang hanya terdengar oleh jiwaku

Terbentuk kata untuk terkata… inginnya bicara
Terkesima pada hal bodoh yang pernah suatu lalu terjelma

Tapi mala mini aku bertanya.
Apa yang harus kulakukan dengan ini?

Ngantuk



Tilas hujan masih menepi di jalanan
Mendung masih semangat di langit malam
Dibawah ini , mata kawan-kawan mengantuk
Terasa ingin meletakkan tubuh kelantai dan hilangkan kesadaran

Disebelahku sudah tertidur pulas.
Kitab-kitab terbuka tanpa disimak apalagi terbaca
Mata dan jiwanya tak lagi berkompromi
Menunduk takzhim dan tertidur pulas

Usai dengan ahiran salam dari bibir sang ustat
Para kawan lelaki benar-benar meneparkan tubuhnya ke lantai
AH ngantuk

Pagi




Sambutan pagi ini penuh kasih.
Ayahhan mencadai anak lelaki di terasnya.
Ayahanda memandikan putrinya di bak mandi.
Senyum dari mata sadis lunturkan sangka, bahwa kebaikan mengalir di dalam lekuknya.
Senyum Ibunda yang kutemui di jalan sedang menghadapkan baju menatap mentari.
Jalan tapakpun penuh dentak senyum.
Langit yang cukup mendung beruntung tak membuat hatiku semendung dirinya.
Sampai ku telusuri jalan monoton ini hingga di sekolahku.
Jalanpun menghidangkan banyak persaksian cerita.
               

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...