Senin, 01 Desember 2014

Ngantuk



Tilas hujan masih menepi di jalanan
Mendung masih semangat di langit malam
Dibawah ini , mata kawan-kawan mengantuk
Terasa ingin meletakkan tubuh kelantai dan hilangkan kesadaran

Disebelahku sudah tertidur pulas.
Kitab-kitab terbuka tanpa disimak apalagi terbaca
Mata dan jiwanya tak lagi berkompromi
Menunduk takzhim dan tertidur pulas

Usai dengan ahiran salam dari bibir sang ustat
Para kawan lelaki benar-benar meneparkan tubuhnya ke lantai
AH ngantuk

Pagi




Sambutan pagi ini penuh kasih.
Ayahhan mencadai anak lelaki di terasnya.
Ayahanda memandikan putrinya di bak mandi.
Senyum dari mata sadis lunturkan sangka, bahwa kebaikan mengalir di dalam lekuknya.
Senyum Ibunda yang kutemui di jalan sedang menghadapkan baju menatap mentari.
Jalan tapakpun penuh dentak senyum.
Langit yang cukup mendung beruntung tak membuat hatiku semendung dirinya.
Sampai ku telusuri jalan monoton ini hingga di sekolahku.
Jalanpun menghidangkan banyak persaksian cerita.
               

Jumat, 28 November 2014

Laba-laba


Jaring laba-laba kecil.
Saling mengikat membentuk ruas-ruas rumahmu.

Sedang awan mendungkan jiwanya.
Sebentar lagi turun hujan.
Mensucikan bumi cinta.
Walau remuklah rumahnya.

Hay laba, kau bangun rumahmu.
Tanpa suami, kau rawat anakmu
Menggelantung di tiang pohon yang tandu
Basah air tangis hujan menghancurkan tapi tak kau sesalkan.

Engkau berlari membangun yang baru
Tak ku dengar tak lihat gores sedihmu
Kau lanjutkan hidupmu.

Rabu, 19 November 2014

Baju merah

Baju merah yang sedang bergelimang merah.
Dekatnya sapi-sapi kehilangan nyawanya. Kambing di seseti danging dan kulitnya.
Tak ku curigai tubuhnya diantara mereka.
Tapi, sebuah kebetulan mata ini menemukannya.

Tak lebih, hanya dapat aura ketenangan tiba-tiba kumiliki. Bahkan tak lebih lama aku duduk diteras ini memandang keramaian.
Aku pergi.
Tapi dilain waktu, sesal itu menghadang.

"APakah terulang kembali"

Kaca mata bapaknya yang sering kutemui.
Tapi di lain waktu hanya satu yang dapat terjadi diantara dua hal.
Bertemu atau tidak.

Walau aku bertanya-tanya.....    "kekosongannya"

Ruang Rahasia



Melamunnya diam membisi
Tak memperhatikan tak pula gubrisnya
Sapda manusiapun seolah ketiadaan Karena ia telah tenggelam pada dunianya

Kerahasiaan yang tak mudah disentuh
Kecuali pemiliknya

Apakah dia menari ataukah tertawa, atau menangis atau bertemu pujaannya
atau sekadar mengulang waktu atau melesat ke depan

Semua itu tak kumengeri
DIa simpan ruang rahasianya dalam keterdiamannya

Senyum itu


Aku menyukai senyumnya
seperti matahari yang baru saja terbit di pagi hari
setelah mendung yang seringkali mengukir di wajahnya

sementara orang lain sibuk tertawa dan bercanda
dia hanya berdiam diri walau matanya terlihat sedang memikirkan sesuatu

Bayang apa yang menggugurkan senyum mu?
Lamun apa yang menahanmu untuk tertawa?

Tapi senyum itu terpancar dari lekuk paras mu
pada satu suasana yang tak ku mengerti
dan itu sungguh indah sekali
ku harap kau mengulanginya kembali

Selasa, 11 November 2014

diam

Lelaki itu berlari memutari waktu
Tak berjerit hanya kosong bertatap

wajahnya kedataran walau menyipan kerahasiaan
Matanya seakan lupa berkedip

Jemarinya bergelantung di bibir

Fisikmu disini
Engkau dimana?

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...