Sabtu, 12 Oktober 2013

Ini baru kawan.......

Ini baru kawan.......

Tak tebendung. Omongan kata, semakin menjalar kemana-mana.Gemerlap bintang bukan dilangit, tapi rasa kekagumannya saat melihat hal itu, mengisi ruang ini. Begitu indah kalau di rasa.Begitu terkagum-kagum. Andaikata aku diperbolehkan untuk berteriak "akuingin menjerit  kegirangan". Bagaimanabisa tidak. "ini terlalu indah".

kau pahami hukum, lalu paham. selesai
kau pahami rumus, lalu paham . selesai
kau baca buku, paham. selesai
tapi ini, meski kau telah memahami semuanya, bahasa, kata,atau isinya, tak akan selesai. karna ini sesuatu yang berbeda dari yang lain.
"Dibaca berulang-ulang, walau faham menjelma adanya,tetap diulang. Walau bosan menghadang, itu bukan bendungan untuk berhenti dari mengulang.

Indah sekali, bila kau mau mencoba pahami, sedalam-dalamnya,dengan bekal informasi-informasi lain, maka kata beliau "kau bisamerasakan gemerlapan bintang, dan menemukan kejutan-kejutan lain yang belum pernah disampaikan".

Ada banyak hal, yang tak dapat disampaikan dalam pengertian,dari mata pelajaran , bahkan fikiran yang ditimbulkannya sendiri.

Hanya bisa dimengerti kalu kau fahami nya.  Dan banyak “kejuta-kejutan” yang sangatkejutan.
ia itu jelas, ia itu nyata, ia juga obat bagi penyakit yang menglolesi “sesuatu “kecil tapi akibatnya kekujur tumbuh kan layu.

Dan suatu hari nanti ia kan menjadi kawan yang sebaik-baiknya kawan bila dia  kau jadikan bagian dari dirimu.

Jumat, 11 Oktober 2013

"TOk. Air mengaliri"






Mata, untuk apa engkau keringkan oleh sebab lupa. Basahi matamu. Untuk mengaliri tumbuhan-tumbuhan yang layu. BIar tetesan itu melewati sulaman garis di kerut wajah, hingga kan mengering dengan sendirinya. walau  serapan airnya tak akan mungkin sampai menyentuh apa itu hati, karena telah kering oleh sinaran sang mentari. setidak-tidaknya telah mampu meluluhkan segumpal batu keras melintang.

BIar batu itu rontok oleh air mata, yang mengalir setetes demi tetes. Walau berjuta hari , tapi merangkaknya pasti, bila hari-hari untuk selalu menetesi, atau konsistensi biar menjelma, agar batu itu melebur. Hingga pintu kan terbuka.

Tok-tok-tok

Masih belum dibukakan pintunya. BAiklah besok aku datang lagi. Dan besoknya lagi pintu itu masih juga belum belum dibukakan. Dan aku mengulanginya dan aku mengulanginya kembali.
Setiap kali aku mengetuk, terdengar tetesan air dari balik pintu yang ingin kubukan.
Begitu terus. Mengetok dan terdengar tetesan air.

Hingga pada waktunya, setelah berjuta hari lamanya, ketukan yang tak pernah berhenti ku tamparkan pada pintu, ahirnya terbuka.

Dan terlihat dari bibir pintu , tersinari cahaya terang benderang, yang sekilas menyilaukan mata yang memandang. Lalu aku memasuki pintu ,dan kulihat di pertapakan lantai dekat pintunya, ada banyak guguran batu yang masih basah, tilas air mata yang tak jemu mengaliri setiap tetes demi tetes untuk meleburkan  batu yang mengganjal pintu, selama ini.

Minggu, 06 Oktober 2013

DEngarlah



Dengarlah  “engkau mendengar maka engkau belajar”

Ada banyak suara yang menggema tanpa aturan nada dan ritme. Mereka bersuara, langsung bersuara. Dengan melodi kebebasan.

Dan suara-suara itu bisa hilang. Kala fikir berjelaga kemana-mana. Saat engkau lebih mementingkan berbicara tanpa ma’na ataupun dengan ma’na.

Tapi coba berhentilah. Coba berhentilah sejenak. Untuk mendengarkan keramaian suara yang tak terhitung nadanya. Bahkan detik jam yang terlupakan mungkin kan terdengar detaknya.

Sungguh, kau kan dengarkan nada indah tersendiri untuk mu.
Dan coba rasakan emosinya, dari dendangan nada yang terumbar.

Indah sungguh indah sekali…..

Nada yang tertoreh tak berurutan lagi tak terkotakkan seperti halnya nada yang ada dalam tangga nada.
Do re mi fa so la si do

 Tapi, nada ini menyimpang dari nada yang telah tertera. Dan banyak nada yang asing yang kan terdengar bunyinya. 

Ini melodi bebas . Yang  tak dijerat oleh  keterbatasan tangga nada. Dan aku namai sebagai nada Emosi, nada rasa. Karna setiap riuhnya suara terkutip emosi yang kan terberikan.

Ada nada yang dinamakan kecewa, bahagia, duka, sedih, merana, takut, nakal, gelak tawa, semilir angin, perbicaan, perdebatan, malu, semangat membara, tangis, simpati, penuh tanya, rengekan anak pada orang tua,motor, mobil dan masih banyak lagi yang tak terhitung dengan jari-jemari.



Dan ada pengertian-pengertian dari setiap nada itu. Suatu ma’na yang kan dimengerti kalau didengarkan.

Coba dengarkan dan rasakan…… dan ma’nai

Ini melodi kebebasan yang tak dibatasi apa itu, ruang buatan manusia.
  
Dengarlah, dengarlah  maka kau kan belajar

Sabtu, 05 Oktober 2013

Maaf!!!!! Tolong sayangi dia




Tidak Mudah memang....  tapi ini yang aku irikan pada beliau. ke istiqomahan sampai mati. hingga para sesepuh memipikan nya berada di rumah megah bersama baginda. Dan saat mereka bangun , ternyata jiwanya telah kembali.

Biar tangis menyeruak, biar rasa tak percaya menghepas habis seisi ruangan rumah. Tapi aku malah berlari ke kemar mandi, mengambil air wudhu lalu ku tunaikan sholat subuh yang belum datang waktunya.
Segera degan cepat aku  selesaikan. Lalu menghampirinya tidur terlentang dikasurnya dengan sekujur tubuh yang telah suci, karna sebelum menghebuskan nafas terakhir, beliau meminta untuk disiram tubuhnya, dan melepas infusnya.

Lantas mengganti pakaiannnya dengan baju yang bersih.

Lari ku menghapirinya. Dan beliau hanya meninggalkan tubuh dingin serta wajah pucat namun berseri. Dan Semu kuning terlapir dimimik wajahnya.  Tapi aku ingin satu kata. Satu kata atau satu kalimat pendek untuk 
 ku dengar dari lisannya “aku  memaafkanmu” hanya itu. 

Tapi perandaian belaka. Malam, detik-detik sebelum eksekusi  tiba, aku memandang beliau, suaranya semakin menghilang. Aku tawarinya segenggam jeruk manis lantas beliau mengagukkan wajahnya. Ini saatnya aku menghilangkan rasa maluku, untuk mengambil sebutir jeruk di hadapan bapak-bapak di ruang tamu. Tekadku bulat demi beliau. Aku dengan bergegas mengambil jeruk yang asik tidur di piring, tengah kerumunan laki-laki dewasa. Dan kembali kekamar dengan membawa kemenangan atas keberhasilanku membawa satu jeruk.

Tapi  ternyata beliau telah diabilkan jeruk yang jauh lebih besar, dan mungkin lebih manis karna paras jeruk itu memang menggiurkan lidah.  Ahhh…. Kecewa….

Aku tidak peduli…. Ahirnya jeruk itu untuk aku sendiri.

Merasa begitu janggal dengan semua ini, beliau sakit, suara beliau semakin dalam dan hilang.  Maka Kali ini aku ingin bertekad untuk mengucapkan kata yang selama ini, setahun lebih ini, kupendam dalam-dalam.
Malam ini adalah saatnya aku harus mengatakan padanya.

Tapi sayang. Selalu saja gagal. Aku malu, aku malu, dan sungkan. Lalu aku menitipkan salam maaf ku kepada emak, biar beliau saja yang menyampaikan aspirasiku kepadanya.

Teng….  Detik mulai mendekati pelestarian. Tiba-tiba mataku ingin terpejam. Bukan hanya aku tapi yang lainpun juga begitu kecuali emakku dan bapakku. Dua insani yang telah lama menjalin komitmen hingga hari ini  telah syah sebagai mempelai yang telah muhrim.

Mata ku terbuka, dan tiga kata sebelum aku lari, oleh kakak tercinta yang berucap “beliau telah tiada”.
walau fikiran masih meng ayang-ayang pada tidur. Tapi rasa tak percaya akan informasi itu, sehingga membuat kakiku bergetar dengan kencang.


Matahari  telah hadir dengan menebarkan cahaya terang nya. Orang-orang berdatangan dengan linangan air mata membasahi pipi-pipi mereka. Bisa dikata beliau adalah seorang guru bagi mereka. Bukannya hanya mereka, tapi aku juga, kakakku, emakku.

Dan satu pertanyaan “ sudahkan kata maafku tersampaikan padanya”
Dan ternyata….   Belum. Ya beliau (emak) belum menyampaikan kata maafku. Sungguh perih.
Namun aku tak boleh menyalahkannya, karna bisa jadi beliau lupa, dan bodohnya aku, kenapa aku tak memintanya sendiri. Dan malah melimpahkannya pada orang lain.

Dasarrr……..

Melinang, air mata bertaburan. Bagaikan daun berguguran. Sungguh menyesal….
Andai aku mampu mengulang waktu beberapa menit saja, maka hanya satu pintaku “maafkan aku”. Tapi apa dayaku? 

Yang dapat kulakukan hanya merintih, dan berdo’a pada-Nya “ampuni hamba-Mu ini gusti, dan terimalah ia disisi-MU, kasihilah dia.”

 Satu hal dari banyak hal pembelajaran yang kudapat hari ini “jangan memintakan orang lain untuk menyampaikan maaf, dan jangan menunggu terlalu lama untuk meminta maaf. Dan tak usah berfikir panjang untuk meminta maaf.  Ketika berbuat salah sebisa mungkin langsung saja pintakan maaf atau sertidak-tidaknya beri ruang untuk bernafas sejenak kemudian baru minta maaf. Agar tidak menyesal pada ahirnya. Seperti manusia ini yang tengah menghayalkan masa-masa itu. Dan Al fathihah untuk mu dariku yang telah terlambat meminta kerelaanmu.”ya Allah, sayangilah dia”
2. Al Baqarah
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

2. Al Baqarah
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
[101]. Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.


2. Al Baqarah

157. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.





Rabu, 02 Oktober 2013

AKu bayi


























Aku bayi. Yang masih merengek, ketakutan minta selimut pada Tuhan. Karena dingin dan bekunya kehidupan sering membuat tubuh ini terbalut keletihan dan ketakutan.

Ketika aku keluar dari rahim ibuku. Kusambut hadirnya dunia ini dengan butiran air mata. Tangan mengempal kuat, dan tangisan begitu menghujat, hingga mengisi seluruh isi ruangan persalinan.

Bukannya senyum manis yang ku tuang, tapi rabaan merintih yang kupanjatkan. Dan berapa kali, munkin ibuku tersenyum untukku, sedang aku hanya bersimpuh meraung  kegelisahan.

Hidup yang bertemakan roda berputar. Semuanya bisa jadi, adanya. Melekik dibawah namun dengan kebahagiaan atau menjulang di tebing pucuk, hanya berkisaran keresahan sebab hanya harta dan hutang yang difikirkan. Atau berada di bawah membawa sengsara, atau berada diatas menjutai bahagia. Semua itu, bisa jadi.
Dan beratnya hidup tak hanya satu orang yang kan dapat merasakan, melainkan semua kan terjamahi di setiap kulit-kulit ari manusia. Siapapun tak terkecuali. Biar roda berutar.

Selimuti . mohon selimuti. Bantu hamba.

Peranakan ketakutan semakin hari semakin luas dan banyak bentuknya. Manakala aku terjerat pada  gorong-gorong dijalan, aku pasti takut, dapat kah kembali dengan jiwa raga sehat. Karna pasti ada luka, dan memar walau kecil parasnya.

Andai sebelum bayi ini, terlahirkan. Aku Engkau beri pilihan. Memilih tuk mengembannya, atau menyererahkan pada orang lain. Maka kukan memilih, biar yang lain saja, karna aku takut, kalo-kalo  aku sampai bertingkah layaknya seorang pendurha pada Tuhannya.

Tapi itu hanya perandaian. Realitanya, EngKau berkeputusan untuk aku mengembannya.
Perjanjian antara hamba dan Tuhannya digelar. Pengakuan sang manusia bahwa Dia, adalah Tuhan semesta alam dan siap menjalani perintah serta menjauhi larangan.

Oekkkkkkkk

Aku lahir…  aku ketakutan. Beban yang kupikul lebih berat dari beratnya gunung paling tinggi, dikarnakan ia saja takut dan bersimpuh undur diri, dari menjalankan perjanjian ini.

Lalu aku????

Komitmen yang begitu berat. Maka mohon bantu aku. Jagalahlah dari mendurhakai-MU . waqdur liyal khoiro khaitsu kana tsumma roddhini bih. Dan selimuti hamba dengan naungan cinta-MU
Bantulah bayi ini….

Minggu, 29 September 2013

Kepedulian bagi “nurani yang bingung”



23-september-2013



Sudah lagi tak terelakkan. Negara indonesia adalah negara paling kaya akan sumber daya alamnya. Namun juga bisa dikatakan, negara yang krisis akan moral. Dari lingkungan yang kumuh, atau berserakan sampah bukan pada tempatnya, menandakan pendidikan moral tak benar-benar merasuk dalam hati, sebagian besar.

Bukan lingkungan atau alam yang akan dibahas dalam ide kali ini, melainkan tentang semarak berdirinya tempat-tempat untuk melacur, juga ketertarikan para insan-insanya, semakin bertambah.
Bukan hanya bagi kalangan orang-orang dewasa saja, melainkan remaja dibawah umur telah mencicipi pekerjaan yang membutakan kehidupan bagi masa depan ini. Di sebabkan oleh perbedaaan masing-masing orangannya. Tergantung keadaan, lingkungan, pengalaman, ekonomi, kemalasan, kecelakaan, tidak punya pilihan lain, keputus asaan.

Orang yang memilih jalan ini pastilah memiliki suatu keadaan yang melatar belakanginya.  Dan bisa jadi, dikarenakan tarif yang diajukan begitu besar sehingga jalan ini memang diinginkan. Atau bisa jadi mereka yang memilih jalan ini, sangat ingin dan membutuhkan bantuan dari orang lain agar dapat meninggalkan jalan ini. Karena mungkin merasa semua jalan telah buntu, serta menanggung malu. Mereka membutuhkan orang lain untuk membantunya.

Sungguh bingung bagaimana caranya menanggulangi porak-porandanya  ini. Karena hal ini memang tidak mudahl. Apalagi dilihat dari peminatnya yang semakin meningkat.

Saran untuk menanggulangi yaitu dengan“KEPEDULIAN”. Entah ini kan berhasil atau tidak, aku tidak bisa menjaminnya.  Karena yang paling penting adalah bagaimana dalam diri kita tumbuh, dan selalu terbangun dalam jiwa kita sikap kepeduliaan kepada sesama.
Mungkin bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sepele. Seperti halnya membuang sampah pada tempatnya, menyapa orang sebagai bentuk penghargaan, dan membantu orang lain dalam kesulitan (seperti halnya menyikirkan duri dari jalan agar para pejalan tidak menginjaknya).

“Mungkin dengan terbiasanya peduli, setiap orang kan terbuka hatinya untuk bersimpati dan membantu satu pelacur yang membutuhkan untuk dibantu. “Walau hanya, satu orang satu pelacur saja” . itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

senang bertengkar denganmu

Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...