Ini baru kawan.......
Tak tebendung. Omongan kata,
semakin menjalar kemana-mana.Gemerlap bintang bukan dilangit, tapi rasa
kekagumannya saat melihat hal itu, mengisi ruang ini. Begitu indah kalau
di rasa.Begitu terkagum-kagum. Andaikata aku diperbolehkan untuk
berteriak "akuingin menjerit kegirangan". Bagaimanabisa tidak. "ini
terlalu indah".
kau pahami hukum, lalu paham. selesai
kau pahami rumus, lalu paham . selesai
kau baca buku, paham. selesai
tapi
ini, meski kau telah memahami semuanya, bahasa, kata,atau isinya, tak
akan selesai. karna ini sesuatu yang berbeda dari yang lain.
"Dibaca
berulang-ulang, walau faham menjelma adanya,tetap diulang. Walau bosan
menghadang, itu bukan bendungan untuk berhenti dari mengulang.
Indah
sekali, bila kau mau mencoba pahami, sedalam-dalamnya,dengan bekal
informasi-informasi lain, maka kata beliau "kau bisamerasakan gemerlapan
bintang, dan menemukan kejutan-kejutan lain yang belum pernah
disampaikan".
Ada banyak hal, yang tak dapat disampaikan dalam pengertian,dari mata pelajaran , bahkan fikiran yang ditimbulkannya sendiri.
Hanya bisa dimengerti kalu kau fahami nya. Dan banyak “kejuta-kejutan” yang sangatkejutan.
ia itu jelas, ia itu nyata, ia juga obat bagi penyakit yang menglolesi “sesuatu “kecil tapi akibatnya kekujur tumbuh kan layu.
Dan suatu hari nanti ia kan menjadi kawan yang sebaik-baiknya kawan bila dia kau jadikan bagian dari dirimu.
Sabtu, 12 Oktober 2013
Jumat, 11 Oktober 2013
"TOk. Air mengaliri"
Mata, untuk apa engkau keringkan oleh sebab lupa. Basahi matamu. Untuk mengaliri tumbuhan-tumbuhan yang layu. BIar tetesan itu melewati sulaman garis di kerut wajah, hingga kan mengering dengan sendirinya. walau serapan airnya tak akan mungkin sampai menyentuh apa itu hati, karena telah kering oleh sinaran sang mentari. setidak-tidaknya telah mampu meluluhkan segumpal batu keras melintang.
BIar batu itu rontok oleh air mata, yang mengalir setetes
demi tetes. Walau berjuta hari , tapi merangkaknya pasti, bila hari-hari untuk
selalu menetesi, atau konsistensi biar menjelma, agar batu itu melebur. Hingga
pintu kan terbuka.
Tok-tok-tok
Masih belum dibukakan pintunya. BAiklah besok aku datang lagi.
Dan besoknya lagi pintu itu masih juga belum belum dibukakan. Dan aku
mengulanginya dan aku mengulanginya kembali.
Setiap kali aku mengetuk, terdengar tetesan air dari balik
pintu yang ingin kubukan.
Begitu terus. Mengetok dan terdengar tetesan air.
Hingga pada waktunya, setelah berjuta hari lamanya, ketukan yang tak pernah berhenti ku tamparkan pada pintu, ahirnya terbuka.
Dan terlihat dari bibir pintu , tersinari cahaya terang
benderang, yang sekilas menyilaukan mata yang memandang. Lalu aku memasuki
pintu ,dan kulihat di pertapakan lantai dekat pintunya, ada banyak guguran batu
yang masih basah, tilas air mata yang tak jemu mengaliri setiap tetes demi tetes
untuk meleburkan batu yang mengganjal
pintu, selama ini.
Minggu, 06 Oktober 2013
DEngarlah
Dengarlah “engkau
mendengar maka engkau belajar”
Ada banyak suara yang menggema tanpa aturan nada dan ritme. Mereka
bersuara, langsung bersuara. Dengan melodi kebebasan.
Dan suara-suara itu bisa hilang. Kala fikir berjelaga
kemana-mana. Saat engkau lebih mementingkan berbicara tanpa ma’na ataupun dengan
ma’na.
Tapi coba berhentilah. Coba berhentilah sejenak. Untuk mendengarkan
keramaian suara yang tak terhitung nadanya. Bahkan detik jam yang terlupakan
mungkin kan terdengar detaknya.
Sungguh, kau kan dengarkan nada indah tersendiri untuk mu.
Dan coba rasakan emosinya, dari dendangan nada yang
terumbar.
Indah sungguh indah sekali…..
Nada yang tertoreh tak berurutan lagi tak terkotakkan
seperti halnya nada yang ada dalam tangga nada.
Do re mi fa so la si do
Tapi, nada ini
menyimpang dari nada yang telah tertera. Dan banyak nada yang asing yang kan
terdengar bunyinya.
Ini melodi bebas . Yang tak dijerat oleh keterbatasan tangga nada. Dan aku namai
sebagai nada Emosi, nada rasa. Karna setiap riuhnya suara terkutip emosi yang kan
terberikan.
Ada nada yang dinamakan kecewa, bahagia, duka, sedih,
merana, takut, nakal, gelak tawa, semilir angin, perbicaan, perdebatan, malu,
semangat membara, tangis, simpati, penuh tanya, rengekan anak pada orang
tua,motor, mobil dan masih banyak lagi yang tak terhitung dengan jari-jemari.
Dan ada pengertian-pengertian dari setiap nada itu. Suatu ma’na
yang kan dimengerti kalau didengarkan.
Coba dengarkan dan rasakan…… dan ma’nai
Ini melodi kebebasan yang tak dibatasi apa itu, ruang buatan
manusia.
Dengarlah, dengarlah maka kau kan belajar
Sabtu, 05 Oktober 2013
Maaf!!!!! Tolong sayangi dia
Tidak Mudah memang....
tapi ini yang aku irikan pada beliau. ke istiqomahan sampai mati. hingga
para sesepuh memipikan nya berada di rumah megah bersama baginda. Dan saat
mereka bangun , ternyata jiwanya telah kembali.
Biar tangis menyeruak, biar rasa tak percaya menghepas habis
seisi ruangan rumah. Tapi aku malah berlari ke kemar mandi, mengambil air wudhu
lalu ku tunaikan sholat subuh yang belum datang waktunya.
Segera degan cepat aku
selesaikan. Lalu menghampirinya tidur terlentang dikasurnya dengan
sekujur tubuh yang telah suci, karna sebelum menghebuskan nafas terakhir,
beliau meminta untuk disiram tubuhnya, dan melepas infusnya.
Lantas mengganti pakaiannnya dengan baju yang bersih.
Lari ku menghapirinya. Dan beliau hanya meninggalkan tubuh
dingin serta wajah pucat namun berseri. Dan Semu kuning terlapir dimimik
wajahnya. Tapi aku ingin satu kata. Satu
kata atau satu kalimat pendek untuk
ku dengar dari lisannya “aku memaafkanmu” hanya itu.
Tapi perandaian belaka. Malam, detik-detik sebelum eksekusi tiba, aku memandang beliau, suaranya semakin
menghilang. Aku tawarinya segenggam jeruk manis lantas beliau mengagukkan
wajahnya. Ini saatnya aku menghilangkan rasa maluku, untuk mengambil sebutir
jeruk di hadapan bapak-bapak di ruang tamu. Tekadku bulat demi beliau. Aku dengan
bergegas mengambil jeruk yang asik tidur di piring, tengah kerumunan laki-laki
dewasa. Dan kembali kekamar dengan membawa kemenangan atas keberhasilanku
membawa satu jeruk.
Tapi ternyata beliau
telah diabilkan jeruk yang jauh lebih besar, dan mungkin lebih manis karna
paras jeruk itu memang menggiurkan lidah.
Ahhh…. Kecewa….
Aku tidak peduli…. Ahirnya jeruk itu untuk aku sendiri.
Merasa begitu janggal dengan semua ini, beliau sakit, suara
beliau semakin dalam dan hilang. Maka Kali
ini aku ingin bertekad untuk mengucapkan kata yang selama ini, setahun lebih
ini, kupendam dalam-dalam.
Malam ini adalah saatnya aku harus mengatakan padanya.
Tapi sayang. Selalu saja gagal. Aku malu, aku malu, dan
sungkan. Lalu aku menitipkan salam maaf ku kepada emak, biar beliau saja yang
menyampaikan aspirasiku kepadanya.
Teng…. Detik mulai
mendekati pelestarian. Tiba-tiba mataku ingin terpejam. Bukan hanya aku tapi
yang lainpun juga begitu kecuali emakku dan bapakku. Dua insani yang telah lama
menjalin komitmen hingga hari ini telah
syah sebagai mempelai yang telah muhrim.
Mata ku terbuka, dan tiga kata sebelum aku lari, oleh kakak
tercinta yang berucap “beliau telah tiada”.
walau fikiran masih meng ayang-ayang pada tidur. Tapi rasa
tak percaya akan informasi itu, sehingga membuat kakiku bergetar dengan kencang.
Matahari telah hadir
dengan menebarkan cahaya terang nya. Orang-orang berdatangan dengan linangan
air mata membasahi pipi-pipi mereka. Bisa dikata beliau adalah seorang guru
bagi mereka. Bukannya hanya mereka, tapi aku juga, kakakku, emakku.
Dan satu pertanyaan “ sudahkan kata maafku tersampaikan
padanya”
Dan ternyata….
Belum. Ya beliau (emak) belum menyampaikan kata maafku. Sungguh perih.
Namun aku tak boleh menyalahkannya, karna bisa jadi beliau
lupa, dan bodohnya aku, kenapa aku tak memintanya sendiri. Dan malah
melimpahkannya pada orang lain.
Dasarrr……..
Melinang, air mata bertaburan. Bagaikan daun berguguran.
Sungguh menyesal….
Andai aku mampu mengulang waktu beberapa menit saja, maka
hanya satu pintaku “maafkan aku”. Tapi apa dayaku?
Yang dapat kulakukan hanya merintih, dan berdo’a pada-Nya “ampuni
hamba-Mu ini gusti, dan terimalah ia disisi-MU, kasihilah dia.”
Satu hal dari banyak
hal pembelajaran yang kudapat hari ini “jangan memintakan orang lain untuk
menyampaikan maaf, dan jangan menunggu terlalu lama untuk meminta maaf. Dan tak
usah berfikir panjang untuk meminta maaf.
Ketika berbuat salah sebisa mungkin langsung saja pintakan maaf atau
sertidak-tidaknya beri ruang untuk bernafas sejenak kemudian baru minta maaf. Agar
tidak menyesal pada ahirnya. Seperti manusia ini yang tengah menghayalkan
masa-masa itu. Dan Al fathihah untuk mu dariku yang telah terlambat meminta
kerelaanmu.”ya Allah, sayangilah dia”
|
2. Al Baqarah
|
|
155. Dan sungguh akan Kami berikan
cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
|
|
2. Al Baqarah
|
|
156. (yaitu) orang-orang yang
apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa
ilaihi raaji'uun"[101].
|
|
[101]. Artinya: Sesungguhnya kami
adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan
kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan
menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
|
|
2. Al Baqarah
|
|
157. Mereka itulah yang mendapat
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk.
|
Rabu, 02 Oktober 2013
AKu bayi
Aku bayi. Yang masih merengek, ketakutan minta selimut pada Tuhan. Karena dingin dan bekunya kehidupan sering membuat tubuh ini terbalut keletihan dan ketakutan.
Ketika aku keluar dari rahim ibuku. Kusambut hadirnya dunia ini dengan butiran air mata. Tangan mengempal kuat, dan tangisan begitu menghujat, hingga mengisi seluruh isi ruangan persalinan.
Bukannya senyum manis yang ku tuang, tapi rabaan merintih yang kupanjatkan. Dan berapa kali, munkin ibuku tersenyum untukku, sedang aku hanya bersimpuh meraung kegelisahan.
Hidup yang bertemakan roda berputar. Semuanya bisa jadi, adanya. Melekik dibawah namun dengan kebahagiaan atau menjulang di tebing pucuk, hanya berkisaran keresahan sebab hanya harta dan hutang yang difikirkan. Atau berada di bawah membawa sengsara, atau berada diatas menjutai bahagia. Semua itu, bisa jadi.
Dan beratnya hidup tak hanya satu orang yang kan dapat merasakan, melainkan semua kan terjamahi di setiap kulit-kulit ari manusia. Siapapun tak terkecuali. Biar roda berutar.
Selimuti . mohon selimuti. Bantu hamba.
Peranakan ketakutan semakin hari semakin luas dan banyak bentuknya. Manakala aku terjerat pada gorong-gorong dijalan, aku pasti takut, dapat kah kembali dengan jiwa raga sehat. Karna pasti ada luka, dan memar walau kecil parasnya.
Andai sebelum bayi ini, terlahirkan. Aku Engkau beri pilihan. Memilih tuk mengembannya, atau menyererahkan pada orang lain. Maka kukan memilih, biar yang lain saja, karna aku takut, kalo-kalo aku sampai bertingkah layaknya seorang pendurha pada Tuhannya.
Tapi itu hanya perandaian. Realitanya, EngKau berkeputusan untuk aku mengembannya.
Perjanjian antara hamba dan Tuhannya digelar. Pengakuan sang manusia bahwa Dia, adalah Tuhan semesta alam dan siap menjalani perintah serta menjauhi larangan.
Oekkkkkkkk
Aku lahir… aku ketakutan. Beban yang kupikul lebih berat dari beratnya gunung paling tinggi, dikarnakan ia saja takut dan bersimpuh undur diri, dari menjalankan perjanjian ini.
Lalu aku????
Komitmen yang begitu berat. Maka mohon bantu aku. Jagalahlah dari mendurhakai-MU . waqdur liyal khoiro khaitsu kana tsumma roddhini bih. Dan selimuti hamba dengan naungan cinta-MU
Bantulah bayi ini….
Minggu, 29 September 2013
Kepedulian bagi “nurani yang bingung”
23-september-2013
Sudah lagi tak terelakkan. Negara indonesia adalah negara
paling kaya akan sumber daya alamnya. Namun juga bisa dikatakan, negara yang
krisis akan moral. Dari lingkungan yang kumuh, atau berserakan sampah bukan
pada tempatnya, menandakan pendidikan moral tak benar-benar merasuk dalam hati,
sebagian besar.
Bukan lingkungan atau alam yang akan dibahas dalam ide kali
ini, melainkan tentang semarak berdirinya tempat-tempat untuk melacur, juga
ketertarikan para insan-insanya, semakin bertambah.
Bukan hanya bagi kalangan orang-orang dewasa saja, melainkan
remaja dibawah umur telah mencicipi pekerjaan yang membutakan kehidupan bagi
masa depan ini. Di sebabkan oleh perbedaaan masing-masing orangannya. Tergantung
keadaan, lingkungan, pengalaman, ekonomi, kemalasan, kecelakaan, tidak punya
pilihan lain, keputus asaan.
Orang yang memilih jalan ini pastilah memiliki suatu keadaan
yang melatar belakanginya. Dan bisa
jadi, dikarenakan tarif yang diajukan begitu besar sehingga jalan ini memang
diinginkan. Atau bisa jadi mereka yang memilih jalan ini, sangat ingin dan
membutuhkan bantuan dari orang lain agar dapat meninggalkan jalan ini. Karena
mungkin merasa semua jalan telah buntu, serta menanggung malu. Mereka membutuhkan
orang lain untuk membantunya.
Sungguh bingung bagaimana caranya menanggulangi
porak-porandanya ini. Karena hal ini
memang tidak mudahl. Apalagi dilihat dari peminatnya yang semakin meningkat.
Saran untuk
menanggulangi yaitu dengan“KEPEDULIAN”. Entah ini kan berhasil atau
tidak, aku tidak bisa menjaminnya. Karena
yang paling penting adalah bagaimana dalam diri kita tumbuh, dan selalu terbangun dalam jiwa kita sikap kepeduliaan kepada
sesama.
Mungkin bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sepele.
Seperti halnya membuang sampah pada tempatnya, menyapa orang sebagai bentuk
penghargaan, dan membantu orang lain dalam kesulitan (seperti halnya
menyikirkan duri dari jalan agar para pejalan tidak menginjaknya).
“Mungkin dengan terbiasanya peduli, setiap orang kan terbuka
hatinya untuk bersimpati dan membantu satu pelacur yang membutuhkan untuk
dibantu. “Walau hanya, satu orang satu pelacur saja” . itu lebih baik daripada
tidak sama sekali.
Langganan:
Postingan (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Lebaran, kau datang cepat sekali. Ramdhan sepertinya tinggal penghabisannya. Aku terlalu mencintai bulan ini. Banyak sekali tilas-tilas sen...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
-
Matanya lebam. Lekukan wajahnya tersirat letih. Auranya terhias kesedihan. Ia duduk bersandar dipan didepan rumahnya. Terpantau manu...

