Rabu, 05 Februari 2014
KOtoran
Berjalan dengan penuh rasa berdosa. Karena aku menginjak kehidupan yang lain. Menginjak hidupnya sesuatu yang berbaik hati.
Kotoran bentukknya menjijikkan. Bau tak sedap. Keluar lewat lubang yang biasanya di lewati si kentut.
Biasanya ia nangkring di bawah, dijalanan, atau duduk berkalang tanah.
Coba hilangkan fikiran tentang menjijikkannya itu. Hilangkan tentang sengatan baunya.
Dan coba perhatikan dan sadari.
“meski ia hanya kotoran, ia itu ada”
Adanya ia seperti adanya kita. Bedanya kita manusia dan ia kotoran.
Dia sama seperti kita, ada di kehidupan, menempati ruang dan waktu. Manusia dan dirinya sama-sama ada di kehidupan.
Disisi lain. Ada suatu keistimewaan yang luar biasa ada padanya. Meski beribu-ribu kali ia terinjak hingga ia kehilangan separuh bahkan sekujur tubuhnya, sedikitpun ia tak membalas.
“Pernahkan kau, sekali saja, melihat kotoran membalas manusia yang menginjaknya?
“Duhai kotoran….. wajahmu, mengeryitkan dahi para manusia. Tapi jiwamu, sungguh berbaik hati”
Senin, 03 Februari 2014
MEnilik
Yang jauh
Yang dekat
YAng benci
Yang suka
BEri mereka penghargaan pada setiap detiknya. Semoga yang tertinggal hanya sebersid rindu, bukan penyesalan. "keep smile"
MElihat wajah-wajah juga mata. Prasangka duga aku mainkan dalam kata yang tak terucap nada. SImpuhku bukan kesimpulan. Toh satu,dua atau tiga detik lagi ia bisa berubah dari sebelumnya. entah sedikit atau banyak. Karena dalam detik ada momenta. Momenta yang membawa perubahan, apapun.
Aku tahu aku hanya duduk termanggu. Seolah menjadi gadis kurang normal yang mempunyai dunia sendiri.
BIla di kata aku sepi : "TIdak" jawabku
bila dikata aku sendiri ; "TIdak"
KArena dalam sepi dan sendiri itu, ada dunia ramai yang seringkali tertutupi wajahnya oleh tabir pekat diri. "menutupi diri dari pengertian"
tanganku melayang di atas lantai. Tergurat bayangan hitam kelam yang geraknya senada tangan....... "HAhahaha.... bayang-bayang, bayangan, membayangakan" KAta yang berbeda arti bila diutarakan. kata simple yang jelas ada alasan dibalik kata itu.
"Hay pintu. Hay botol. Hay pohon. Hay rumah. Hay sendal. hay!!!!!
Apapun, segala apapun. Yang ada, memiliki alasan ada. Lalu aku apa "Alasan"?
Bila
BIla mata basah kuyup maka ku cibirnya atas sebab. Sebab terakhir kucari.
Tapi aku berlari, di paggung sandiwara. Hanya duduk di taman, beriringan manusia berlalu lalang atas nama naskah yang tertulis tanpa tahu endingnya seperti apa.
AKu lihat ada banyak yang kehilangan. dan aku lihat ada banyak ketegaran. Dan aku lihat aku. maka aku tidak mengerti, mengapa daun berguguran indahnya tak sampai padaku.
Lumut hijau yang terdampar di pinggiran tak terjamah nadiku.
Yang ku tahu aku hanya hilang. hilang pada bagian diriku yang untuk saat ini paling rentan.
Maka aku hadapi walau dengan mengusap basah kuyupnya.
Tapi aku berlari, di paggung sandiwara. Hanya duduk di taman, beriringan manusia berlalu lalang atas nama naskah yang tertulis tanpa tahu endingnya seperti apa.
AKu lihat ada banyak yang kehilangan. dan aku lihat ada banyak ketegaran. Dan aku lihat aku. maka aku tidak mengerti, mengapa daun berguguran indahnya tak sampai padaku.
Lumut hijau yang terdampar di pinggiran tak terjamah nadiku.
Yang ku tahu aku hanya hilang. hilang pada bagian diriku yang untuk saat ini paling rentan.
Maka aku hadapi walau dengan mengusap basah kuyupnya.
Senin, 27 Januari 2014
Jejak yang kutemukan
Bulan ini adalah waktu bagi langit menangis.
Tangis yang indah, kerana ratapannya menghidupi kegersangan bumi.
Bahkan ia juga malapetaka, bagi sebagian kota.
Ia bagai lautan menutupi jalan-jalan raya. Serta menenggelamkan rumah-rumah, tanpa memandang milik siapa.
DAn untuk hal ini adalah kesalahan manusia itu sendiri.
Payungku kembali ku kembangkan. Melewati jalan dengan rintik-rintik hujan.
TIba-tiba ada wanita tangguh yang berselimutan warna hijau tua. BErtelekan di jalan yang aku hampiri.
IA tertawa, tingkahnya jelita, wajahnya berbinar macam orang jatuh cinta saja
Darinya pula aku menemukan katanya lagi. Setelah sekian lama kata itu raip, dan hampir terlupakan.
Namun hari ini ia datang.... namun hari ini kata itu datang.
Payungku sengaja kuletakkan, biar basahnya hujan melumuri tubuh ini.
Bahkan kata-kata ini aku cerna untuk melengkapi kamus bahasa kataku.
Tangis yang indah, kerana ratapannya menghidupi kegersangan bumi.
Bahkan ia juga malapetaka, bagi sebagian kota.
Ia bagai lautan menutupi jalan-jalan raya. Serta menenggelamkan rumah-rumah, tanpa memandang milik siapa.
DAn untuk hal ini adalah kesalahan manusia itu sendiri.
Payungku kembali ku kembangkan. Melewati jalan dengan rintik-rintik hujan.
TIba-tiba ada wanita tangguh yang berselimutan warna hijau tua. BErtelekan di jalan yang aku hampiri.
IA tertawa, tingkahnya jelita, wajahnya berbinar macam orang jatuh cinta saja
Darinya pula aku menemukan katanya lagi. Setelah sekian lama kata itu raip, dan hampir terlupakan.
Namun hari ini ia datang.... namun hari ini kata itu datang.
Payungku sengaja kuletakkan, biar basahnya hujan melumuri tubuh ini.
Bahkan kata-kata ini aku cerna untuk melengkapi kamus bahasa kataku.
Sabtu, 14 Desember 2013
Kancah sesal
Apa yang kucari hingga ku pergoki
diriku sering terlena kesenangan duniawi yang tiada habisnya?
Apa yang kucari? Kesenangan ?,
hura-hura?
Bukan, bukan. Bukan itu maksudku!!
Hati ini parau, menjejaki
pertapakan yang menimbulkan birahi, kehampaan hati.
Bertautan mendung kala kancah
langit menebarkan pesona.
Buta terhadap warna-warni hanya
karena tangan menutupi mata.
Pegunungan yang begitu besarnya
dapat lenyap sekajap pandangan sebab tertutupi uang seribu yang bertelekan di
mata.
Aku sering menjatuhkan diriku dalam
malapetaka. Saat aku kehilangan kendali diriku.
Menyeruak amarah, ego, kebencian
Selaksa mensayat nadi pagoda
kesucian hati.
Bertautan emosi, hingga aku
menyesali diri.
Pengulangan membayangi ku. Ingin sekali
ku mengulang waktu hanya inginkan sebongkah penghargaan pada waktu yang telah
berlalu jauh.
Walau jauhnya hanya tida detik
waktu bergulir…
Ingin kembali untuk menghargai, toh
yang dapat dilakukan adalah jalan kedepan dengan menghargainya, agar berlalu
dengan tanpa ada goresan sesal.
“Setidaknya berusaha untuk hal itu”
Sabtu, 23 November 2013
Ada ???
Ada dari tiada. Sesuatu ada karna sesuatu yang lain......begitu terus hingga yang ada hanyalah tiada.
yang ada mengapa ada?
apakah iya memilih untuk ada? emangnya ia bisa menentukan dirinya? yaqin iya bisa menciptakan dirinya?
jika ia menciptakan dirinya, maka ia butuh "diri" untuk bisa mencitakan dirinya?
I need..... yang meng ada untuk ada.
BUt, aku takut sekali. "sepertinya jerami yang bertelekan tidur menghadap angkasa enak ya. ketika memang, tiada. "Sudah". selesailah dirinya.
AKu ini musafir. menelusuri jalan hidup ini hanya sekejap mata. Mengumpulkan buah-buahan untuk perbekalan jalan hidup setelahnya, yang tidak diketahui ukuran waktunya.
AKu musafir. Yang bertemu dengan musafir lain, di jalan. Pernahku, menjereat hatiku, hingga lengket bersama para musafir itu. Tapi toh, pada ahirnya kita berjalan sendiri-sendiri, dengan bayang-banyang kenangan saat kita bertemu.
Pernahku iri pada mereka, pernahku membenci mereka, pernah ku mencintai mereka, Pernah ku sakiti mereka, pernah ku saling tolong denga mereka.DAn pernah ku tersenyum pada mereka. HIngga semua itu berlalu, hingga nantinya setiap musafir-musafir akan berjalan pada jalan yang telah dipilihnya sendiri.
Seolah hanya bayang sapa, lalu mengenang pada awang-awang kepala, lalu menangis ingin dikembalikan pada waktu yang berlalu. ENtah hanya tersenyum saja atau minta maaf.
UNtuk pembelajaran saja " semoga ketika kita bertemu, sambutku pada kamu musafir, degan tersenyum. BUkan sebagai permusuhan. Toh hanya sekejap kita bertemu. APakah tidak bisa sabar untuk meninggalkan kenangan yang baik?
yang ada mengapa ada?
apakah iya memilih untuk ada? emangnya ia bisa menentukan dirinya? yaqin iya bisa menciptakan dirinya?
jika ia menciptakan dirinya, maka ia butuh "diri" untuk bisa mencitakan dirinya?
I need..... yang meng ada untuk ada.
BUt, aku takut sekali. "sepertinya jerami yang bertelekan tidur menghadap angkasa enak ya. ketika memang, tiada. "Sudah". selesailah dirinya.
AKu ini musafir. menelusuri jalan hidup ini hanya sekejap mata. Mengumpulkan buah-buahan untuk perbekalan jalan hidup setelahnya, yang tidak diketahui ukuran waktunya.
AKu musafir. Yang bertemu dengan musafir lain, di jalan. Pernahku, menjereat hatiku, hingga lengket bersama para musafir itu. Tapi toh, pada ahirnya kita berjalan sendiri-sendiri, dengan bayang-banyang kenangan saat kita bertemu.
Pernahku iri pada mereka, pernahku membenci mereka, pernah ku mencintai mereka, Pernah ku sakiti mereka, pernah ku saling tolong denga mereka.DAn pernah ku tersenyum pada mereka. HIngga semua itu berlalu, hingga nantinya setiap musafir-musafir akan berjalan pada jalan yang telah dipilihnya sendiri.
Seolah hanya bayang sapa, lalu mengenang pada awang-awang kepala, lalu menangis ingin dikembalikan pada waktu yang berlalu. ENtah hanya tersenyum saja atau minta maaf.
UNtuk pembelajaran saja " semoga ketika kita bertemu, sambutku pada kamu musafir, degan tersenyum. BUkan sebagai permusuhan. Toh hanya sekejap kita bertemu. APakah tidak bisa sabar untuk meninggalkan kenangan yang baik?
Sabtu, 09 November 2013
"Tebar Pesona"
Mencoba mendekati masyakat. Langkah
awal yang dilalui, bukan hanya bayang-banyang juga berbicara belaka tanpa ada
aksi. Tapi terjun langsung ke lapangan, melihat langsung, menelusuri gang-gang
kecil Kemudian mensapai orang-orang
sebagai bentuk interaksi dengan mereka.
Siapapun tak terkecuali anak
balita. Bahkan sampai yang tua rentapun harus disambut dengan menyapa.
Setidak-tidaknya hanya dengan senyum belaka. Bila aku kata, pendekatan ini yang
ku beri nama “tebar pesona”. Dan hal ini biar menjadi langkah awal dalam
mendekati mengenali juga memahami masyarakat.
Walau menebar pesona dengan sapaannya, tetaplah
coba amati mereka, lingkugan, obrolan.
Sebagai bentuk melatih kepekaan diri.
Langganan:
Postingan (Atom)
senang bertengkar denganmu
Pernahkah kau bertengkar? Apa kau menyesalinya? Dan bila itu terjadi padaku aku tak akan menyesalinya. Indahnya pagi setelah kutempuh malam ...
-
Lebaran, kau datang cepat sekali. Ramdhan sepertinya tinggal penghabisannya. Aku terlalu mencintai bulan ini. Banyak sekali tilas-tilas sen...
-
Hay...... pahami aku!!!! teriakku pada mereka. yang kudapat hanya diam mereka, bahka tak sedikitpun mereka mau memperhatikan. ...
-
Matanya lebam. Lekukan wajahnya tersirat letih. Auranya terhias kesedihan. Ia duduk bersandar dipan didepan rumahnya. Terpantau manu...